Yomiuri Hatsugen Komachi: Forum Online Masalah Kehidupan Sehari-hari

  • 0

Yomiuri Hatsugen Komachi: Forum Online Masalah Kehidupan Sehari-hari

Forum diskusi (掲示板, keijiban) adalah salah satu media menarik untuk bahan bacaan. Beda dari artikel atau karangan misalnya, poin utama dari forum adalah diskusi dan tukar pendapat para pesertanya.

Berbicara tentang forum online, pasti yang akan pertama kali terlintas di kepala adalah 2ch (ni channeru), forum terbesar di dunia yang melahirkan legenda Densha Otoko.

Sayangnya, bahasa yang digunakan di forum tersebut seringkali bukan bahasa normal. Slang internal 2ch sangatlah banyak, sehingga waktu kita akan terkuras untuk menyelidiki berbagai istilah yang mungkin sama sekali tidak digunakan di percakapan normal. Belum lagi frekuensi junk yang tinggi (misalnya postingan satu kata yang tidak bersubstansi).

Untuk alternatif bacaan yang mungkin lebih bisa dicerna, baru-baru ini saya menemukan Yomiuri Hatsugen Komachi yang dikelola koran Yomiuri Shinbun. Subforum pembaca yang ada berkisar masalah kehidupan sehari-hari, misalnya percintaan (男女, danjo = cowok cewek), human relationship (persahabatan dsb.) (人, hito = orang), pendidikan (学ぶ, manabu = belajar), dan pekerjaan (働く, hataraku = bekerja).

Walaupun cakupannya sepertinya terbatas, sebetulnya banyak sekali topik menarik yang muncul. Dari forum tersebut kamu bisa tahu masalah aktual orang Jepang modern, dan bagaimana masyarakat Jepang memandang segala sesuatu. Bahasa yang digunakan normal, dan tentunya pengetahuan yang didapat dari sini akan berguna saat kita ngobrol tentang Jepang atau dengan orang Jepang misalnya.

Sebagai contohnya adalah topik oyome-san ga saikin tsumetain desu (Menantuku akhir-akhir ini dingin). Di situ ada mertua yang curhat bahwa menantu perempuannya pada awalnya sangat akrab dengan dia. Baru-baru ini menantu tersebut melahirkan, sehingga mertua tersebut sangat bahagia dianugerahi cucu pertamanya. Berniat baik, mertua tersebut berusaha sebisa mungkin mengajari cara membesarkan anak dari pengalamannya selama ini. Ternyata menantunya lama-lama menjadi dingin, mulai dari telepon yang tidak diangkat sampai SMS yang dibalas telat dan singkat seperlunya.

Di situ, respons dan masukan orang lain bisa dibilang satu suara: Jangan ikut campur urusan membesarkan anak! Ada yang menulis bahwa pengalaman membesarkan anak di zaman dahulu banyak yang sudah tidak pas lagi di masa sekarang. Ada yang bilang pasti menantu tersebut juga sudah aktif mencari sendiri atau membaca berbagai info tentang hal ini, jadi kalau terlalu ikut campur maka akan terkesan sok tahu atau tidak percaya. Ada ibu dua anak yang berkomentar bahwa sikap seperti itulah yang membuat mertua reputasinya buruk dan dijauhi. Ada yang bilang ini bukan anak si mertua, jadi hargai cara membesarkan yang mereka pilih sendiri. Dari sini bisa dilihat bahwa sepertinya di masyarakat Jepang modern, seorang ibu sama sekali tidak ingin mertua ikut campur urusan membesarkan anak. (Di Indonesia bagaimana ya? Apa malah senang kalau mertua baik hati berbagi ilmu? Tolong komentarnya.)

Banyak judul topik yang membuat kita tertarik tahu isinya dan respons orang lain. Mulai dari Apa pendapat kalian tentang wanita yang menjadi ibu rumah tangga? sampai tentang seorang laki-laki murid SMU yang ingin menjadi pengasuh anak di playgroup namun masih ragu (apa orang tua takut kalau misalnya anak perempuannya diurus laki-laki?). Seringkali kita bisa tahu trend cara pandang melalui statistik survei dan sejenisnya, namun tentu saja membaca pendapat individual satu persatu juga hal yang sangat menarik.


Leave a Reply