Melihat Budaya Antre Orang Jepang Seperti Saat Umroh, Indonesia Bisa Nggak?

  • -
Melihat Budaya Antre Orang Jepang, Indonesia Bisa Nggak

Melihat Budaya Antre Orang Jepang Seperti Saat Umroh, Indonesia Bisa Nggak?

Melihat Budaya Antre Orang Jepang Seperti Saat Umroh, Indonesia Bisa Nggak?

Melihat Budaya Antre Orang Jepang, Indonesia Bisa Nggak

Budaya disiplin yang dimiliki oleh orang-orang Jepang memang patut untuk kita acungi jempol. Untuk sekadar naik bus kota, mereka rela mengantre hingga panjang. Walaupun antrean sangat panjang, orang Jepang akan tetap mengantre hingga waktu gilirannya tiba biaya umroh 2018. Menurut mereka, mengantre dengan baik merupakan wujud dari penghormatan kita terhadap hak orang lain.

Dalam mengantre biaya umroh 2018, orang Jepang tidak membutuhkan batas yang biasa digunakan untuk mengatur barisan supaya tetap rapi. Hal ini disebabkan karena kebiasaan mengantre orang Jepang suah mendarah daging sehingga bisa menciptakan keteraturan sendiri. Apabila ada seseorang yang tidak menaati aturan orang-orang Jepang maka orang tersebut atan dianggap orang aneh.

Mengantre untuk Naik Bus
Di Indonesia, tentu Anda pernah menjumpai orang yang saling berdesakan ingin naik ke atas bus dalam satu waktu. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan penumpang bus di Jepang yang rela mengantre hingga bermeter-meter untuk naik ke atas bus. Walau antreannya sangat panjang, tidak ada satu pun penumpang bus yang berusaha untuk memotong barisan ataupun menyerobot.
Para penumpang bus biaya umroh 2018 akan menanti dengan sabar hingga gilirannya tiba walau sepanjang apapun antrean yang ada. Ini bukanlah satu hal khusus bagi orang jepang karena mengantre merupakan budaya dari masyarakat Jepang.

Terbiasa Jalan Kaki
Orang-orang Jepang ketika pergi bekerja lebih suka berjalan kaki. Selain menyehatkan badan, berjalan kaki untuk pergi bekerja bisa membuat lingkungan lebih sehat karena mengurangi polusi udara yang diakibatkan oleh kendaraan. Tentu hal ini sangat bertentangan dengan kebiasaan orang Indonesia. Kebanyakan orang Indonesia akan menggunakan alat transportasi untuk pergi bekerja walau jaraknya tidak terlau jauh biaya umroh 2018.

Suasana trotoar di Jepang berbeda jauh dengan trotoar di Indonesia. Karena sangat mengutamakan para pejalan kaki maka kondisi trotoar di sana sangat terawat dan tampak bersih. Sedangkan di Indonesia bisa Anda lihat sendiri, umumnya trotoar digunakan untuk berjualan oleh para pedagang ataupun dilintasi oleh sepeda motor.

Alasan Orang Jepang Disiplin dalam Mengantre

Kebiasaan mengantre biaya umroh 2018 yang dilakukan oleh orang Jepang sudah mereka lakukan sejak masih anak-anak. Ketika duduk di taman kanak-kanak, mereka sudah diajari pelajaran baris berbaris sehingga dari sini mereka sudah melatih diri mendisiplinkan diri sejak dini, saling menghormati sesama manusia dan saling bekerja sama.

Ketika masih anak-anak, mereka akan mengikuti sebuah pertunjukkan drama. Ketika suatu kelompok sedang menampilkan drama maka anak-anak lain akan diam dan memperhatikan drama tersebut. Dari sini anak-anak dilatih untuk menahan diri dan bersabar. Anak-anak di Jepang juga akan mengikuti perlombaan shuudankoudu ( aksi kolektif) yang bisa melatih mereka untuk terbiasa mengantre dan berbaris ketika sudah dewasa.

Manfaat Mengantre

Mengantre akan mengajari kita untuk bisa mempelajari tentang sebab akibat. Jika tidak ingin mengantre maka Anda harus datang lebih awal atau terima resiko untuk mengantre ketika datang terlalu lambat. Dalam mengantre biaya umroh 2018 ini tentu harus bersikap tenang serta tidak memotong hak orang lain yang datang lebih awal ketika sedang mengantre. Sebagai manusia Anda tidak boleh egois, masing-masing orang memiliki kepentingan yang sama dengan Anda.

Ketika mengantre membuat rasa bosan muncul maka cara untuk mensiasatinya adalah dengan menyibukan diri membaca buku ataupun koran seperti yang orang Jepang lakukan. Di setiap kesempatan, orang Jepang akan selalu mencari pengetahuan baru. Berbincang biaya umroh 2018 dengan orang lain ketika sedang mengantre juga akan membuat Anda mimiliki banyak teman baru.

Sumber:https://news.detik.com/foto-news/d-3702178/melihat-budaya-antre-orang-jepang-indonesia-bisa-nggak/4#share_top


  • -

Saingi Indonesia : Jepang akan mempunyai penduduk dengan mayoritas beragama Islam.

Tentu adalah sebuah kabar yang membahagiakan bagi umat Islam apabila jumlahnya terus bertambah. Apalagi kabar ini datang dari negara yang mayoritas penduduknya bukan beragama Islam. Hal ini merupakan sesuatu yang langka Diana.

“Islamic Center yang terletak di Tokyo, Jepang sedang merintis pendirian sekolah Islam pertama di Jepang. Dalam sehari pula, sekitar 10 warga negara Jepang masuk Islam. Ungkap Dr Zakaria Ziyad, kepala Lembaga Kaum Muslimin (LKM). (biaya umroh)

Ziyad mengatakan bahwa telah dibeli sebidang tanah di dekat Masjid Terbesar di Tokyo dalam wawancaranya dengan surat kabar “Khaleej” yang terbit di Emirat. Sebuah sekolah rencananya akan didirikan di areal tersebut, SubhanAllah, semoga jalannya dipermudah. Aamiin.

“Kaum Muslimin di Jepang selalu ragu-ragu untuk membangun masjid. Akibatnya di seluruh wilayah Jepang hanya ada sekitar 50 buah masjid yang harus melayani ribuan kaum Muslimin. Alhamdulillah toleransi di Jepang amatlah tinggi, karena konstitusi Jepang sendiri menyatakan tidak akan ikut campur dalam permasalahan keyakinan agama,” kata Ziyad selaku ketua Ikatan Mahasiswa Muslim (IMM) sekaligus dosen di Tokyo University. www.alhijazumrah.com

Kaum Muslimin masihlah tidak mampu untuk mendirikan masjid. Padahal sebutulnya masjid alah pintu penting untuk Menjaga identitas Islam dan kaum Muslimin di Jepang. Masjid Nagoya adalah masjid yang paling menonjol di negeri itu, masjid tersebut didirikan oleh Kementrian Wakaf, Uni Emirat Arab.

Saat ini sejumlah masjid dan Mahalla yang ada di Jepang kekurangan imam dan khatib yang seharusnya dapat memberdayakan kaum Muslim Jepang dan mengenalkan prinsip-prinsip agama pada mereka. Permasalahan yang utama adalah para Dai kaum Muslimin yang dikirim negara-negara Arab dan Islam tidak menguasai bahasa Jepang disana.

“Negeri Sakura amat memerlukan seorang Mufti yang bersedia tinggal di tengah kaum Muslim Jepang untuk memberikan fatwa agama yang benar kepada mereka. Semua orang akan mengenal seberapa besar problematika yang dihadapi manakala mengetahui bahwa jumlah imam yang ada saat ini di Jepang tidak lebih dari 5 orang saja,” ujar Zakaria.

Ia juga menyebutkan bahwa salah satu organisasi Islam di Jepang telah membeli sebidang tanah dekat Tokyo. Sejumlah pekuburan juga didirikan di atas tanah itu untuk nantinya menjadi tempat kaum Muslim yang meninggal dunia dikuburkan secara gratis. Mengingat bahwa harga tanah di Jepang masihlah amat mahal.

Ia meminta yayasan-yayasan dakwah Islam besar untuk meningkatkan kerja kerasnya di Jepang. Hal ini mengingat negeri matahari itu dinilai sebagai ladang yang subur untuk penyebaran dakwah Islam. Dalam waktu yang sama, Zakaria mengimbau kepada negara-negara Arab dan Islam agar membantu kaum Muslimin Jepang dengan mengirimkan para Dai yang bekerja menyebarkan pengetahuan Islam.

“Masyarakat Jepang tidaklah menyimpan rasa benci terhadap Islam ataupun kaum Muslimin. Masih belum pernah ada suatu kejadian yang membuat seorang Muslim mengalami kesulitan atau masalah, baik ia seorang warga negara pribumi Jepang ataupun warga pendatang.” ujar Ziyad. “Pemerintah dan rakyat Jepang memberikan kebebasan total bagi kaum Muslimin dalam menjalankan syiar agama mereka.” tambah Ziyad.