Tutorial Watarasebashi #10 – Pengelompokan kana

  • 0

Tutorial Watarasebashi #10 – Pengelompokan kana

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Setelah meninjau huruf-huruf Jepang, kita sekarang akan mulai membahas lagu Watarasebashi dari awal. Romaji akan disertakan sepanjang tutorial, namun ingat bahwa itu ada agar mereka yang masih belajar kana bisa langsung mengikuti artikel-artikelnya.

Pembahasan akan dimulai dari judulnya yaitu “Watarasebashi” yang artinya Jembatan Watarase. Kata tersebut dibentuk dari watarase yang merupakan suatu nama dan hashi yang artinya jembatan. Pertanyaannya, kenapa jadinya watarasebashi dan bukan watarasehashi?

watarasebashi merupakan kata gabungan. Seringkali, dalam pembentukan kata gabungan terjadi perubahan suara pada kata keduanya, dalam hal ini hashi menjadi bashi. Di sini kita akan mempelajari perubahan tersebut, yang sebetulnya lebih ke arah studi fonologi. Untuk memahami aturannya, kita perlu kembali meninjau aspek teknis dari kana.

Pengelompokan kana (hiragana dan katakana)

Di bahasa Jepang, huruf-huruf kana dasar dikelompokkan menjadi baris-baris tertentu, yang jika disusun akan membentuk tabel. Pengelompokan ini sangat vital untuk memahami berbagai aturan tata bahasa dan harus kamu kuasai. Untuk membentuk kata sopan dari kata dasarnya misalnya, kamu perlu tahu pengelompokan ini.

Baris yang pertama adalah baris a:


a

i

u

e

o

Urutan vokalnya adalah a-i-u-e-o, bukan a-e-i-o-u seperti pada alfabet Latin.

Berikutnya adalah baris k:


ka

ki

ku

ke

ko

Baris tersebut sangat mudah dimengerti sebab hanya merupakan kombinasi konsonan k dengan vokal a-i-u-e-o.

Selanjutnya adalah baris s, dan di sini mulai terdapat ketidakberaturan:


sa

shi

su

se

so

Bisa dilihat bahwa huruf baris s vokal i bukanlah “si” seperti yang diharapkan, namun “shi”. Suara “si” tidak ada di kata-kata bahasa Jepang asli. Untuk mengingat perkecualian ini, ingatlah bahwa di cerita Doraemon terdapat tokoh yang bernama “shizuka” dan bukan “sizuka”.

Baris selanjutnya yaitu baris t malah memiliki 2 perkecualian:


ta

chi

tsu

te

to

Baris t vokal i bukanlah “ti” namun “chi”. Begitu juga vokal “u” bukanlah “tu” tapi “tsu”. “ti” dan “tu” tidak ada di kata-kata bahasa Jepang asli. Ingatlah dengan tokoh “chibiusa” pada cerita Sailor Moon (bukan “tibiusa”) dan “tsubasa” pada cerita Kapten Tsubasa (bukan “tubasa”).

Baris n suaranya teratur:


na

ni

nu

ne

no

Namun berikutnya baris h memiliki perkecualian:


ha

hi

fu

he

ho

Bagi orang Jepang, gabungan h dengan u adalah “fu”, bukan “hu”. Makannya ada gunung yang bernama “fuji” bukannya “huji”.

Baris m juga teratur:


ma

mi

mu

me

mo

Berikutnya adalah baris y yang teratur namun hanya digabung dengan vokal a-u-o:


ya

yu

yo

Baris selanjutnya adalah baris r yang juga teratur:


ra

ri

ru

re

ro

Baris berikutnya yaitu baris w hanya memiliki vokal a dan o:


wa

wo

Vokal mati satu-satunya tidak digolongkan baris manapun:


n

Dengan begitu, urutan baris-barisnya adalah a-k-s-t-n-h-m-y-r-w. Mengetahui urutannya akan berguna untuk melakukan pencarian pada daftar yang diurutkan berdasarkan kana. Contohnya adalah pada daftar penyanyi lagu anime Wikipedia bahasa Jepang. Kalau kamu ingin menghafalnya agar ingat suara-suara yang ada di bahasa Jepang, ini nemoniknya:

Anak Kancil Sedang Tidur Nyenyak Habis Makan Yakiniku Rasa Wortel

Yang juga penting kamu hafalkan adalah suara-suara perkecualian yang ada di baris s (shi), t (chi, tsu), dan h (fu). Nemonik yang bisa kamu pakai adalah “tsubasa tanding di gunung fuji, disoraki shizuka dan chibiusa”. Kalau kamu tidak kenal tokoh-tokoh tersebut, kamu bisa buat nemonik lain sendiri.

Penutup

Setelah pembahasan panjang tersebut, sayangnya ilmu kita belum cukup untuk membahas perubahan hashi ke bashi! Mungkin di episode berikutnya.

Tapi, dengan ilmu yang baru kita pelajari, kita bisa bermain sedikit tebak-tebakan…

Pertama, ingat bahwa suara “si”, “ti”, “tu”, dan “hu” tidak ada di bahasa Jepang. Bagi orang Jepang, s yang digabung i ya bunyinya “shi” bukan “si”. Nah, karenanya, jika ada orang Jepang yang menulis romanisasi si, sebetulnya yang mereka maksud adalah kana し yang suaranya “shi”! Begitu juga untuk suara perkecualian lainnya.

Dengan mengingat poin tersebut, sekarang coba jawab pertanyaan berikut.

1) Ada orang Jepang yang mengupload gambar dengan nama berkas mitisige_L2.jpg. Sebetulnya, bagaimana cara membaca mitisige?

Jawaban: Cara membacanya adalah “michishige”. Ingat, di bahasa Jepang tidak ada suara “ti” sehingga yang dimaksud orang tersebut saat menulis ti adalah suara “chi” (ち). Begitu juga dengan si yang sebetulnya dibaca “shi” (し).

2) Orang yang sama mengupload berkas tuji_L8.jpg. Bagaimana sebetulnya cara membaca tuji?

Jawaban: Cara membacanya adalah “tsuji”. Di bahasa Jepang, gabungan t dan u menghasilkan つ yang bunyinya “tsu” bukan “tu”.

3) Terakhir, ada orang Jepang yang membuat halaman dengan nama hujimoto04.htm. Bagaimana cara membaca hujimoto yang benar?

Jawaban: Cara membacanya adalah “fujimoto”. Kalau orang Jepang menulis hu, yang mereka maksud adalah suara “fu” (ふ).

Pelajaran fonologi kita ini cukup berguna kan? Sampai jumpa di episode berikutnya!

Lampiran

Inilah daftar suara dasar kana yang disusun dalam tabel:

Vokal
a i u e o
Baris a
a

i

u

e

o
Baris k
ka

ki

ku

ke

ko
Baris s
sa

shi

su

se

so
Baris t
ta

chi

tsu

te

to
Baris n
na

ni

nu

ne

no
Baris h
ha

hi

fu

he

ho
Baris m
ma

mi

mu

me

mo
Baris y
ya

yu

yo
Baris r
ra

ri

ru

re

ro
Baris w
wa

wo

n

  • 0

Tutorial Watarasebashi #04 – Mengenal Hiragana dan Suara di Bahasa Jepang

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode ini, kita akan berkenalan dengan hiragana yaitu salah satu jenis huruf yang dipakai di bahasa Jepang. Untuk mengawali, coba kita mulai dari bahasa kita sendiri yaitu bahasa Indonesia.

Di bahasa Indonesia, kita punya huruf kecil dan huruf besar. Walaupun pada dasarnya sama, masing-masing punya fungsinya sendiri-sendiri. Misalnya, huruf besar dipakai untuk mengawali kalimat. Huruf besar juga dipakai untuk singkatan misalnya pada MMIF. BISA JUGA UNTUK MEMBUAT KALIMAT YANG KELIHATANNYA SEPERTI BERTERIAK-TERIAK!!! AtaU SeKeDAr UnTuK MemBuAT oRaNG yaNg MeMBacA PuSinG.

Nah, dilihat dari sudut pandang tersebut, maka tidaklah begitu aneh bahwa bahasa Jepang punya 3 jenis huruf. Ada hiragana, katakana, dan kanji yang punya kasus penggunaannya masing-masing. Kita akan mulai dari yang paling dasar yaitu hiragana.

Hiragana

Di foto yang mengawali tulisan ini, huruf-huruf hiragana yang ada ditandai dengan warna biru. Kamu bisa lihat bahwa sebagian besar lagunya ditulis dengan hiragana. Artinya, kalau kamu mempelajari hiragana, kamu akan bisa membaca cukup banyak!

Suatu huruf hiragana pada dasarnya melambangkan silabel (suku kata) sehingga bisa langsung berbunyi tanpa perlu digabung dengan huruf lain. Contohnya, hiragana yang pertama kali muncul di lagu itu adalah で yang dibaca “de”. Perhatikan bahwa dengan huruf latin kita butuh 2 huruf untuk menyatakan suaranya!

Inilah perbedaan utama sistem seperti hiragana dengan sistem alfabet seperti pada bahasa Indonesia. Sebagai contoh lain, bayangkan suara “ka”, “ki”, “ku”, “ke”, dan “ko”. Dengan bahasa Indonesia, penulisan masing-masing memerlukan 2 huruf: satu untuk konsonannya yaitu “k”, dan satu lagi untuk suara vokal yang bersangkutan. Di bahasa Jepang, tiap silabel tersebut punya hurufnya sendiri yaitu か, き, く, け, dan こ.

Kalau di bahasa Indonesia kita membuat satu huruf untuk setiap silabel seperti pada hiragana, maka kita perlu huruf untuk suara “bu”, huruf lain untuk “ruk”, huruf lain untuk “blang”, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa banyak huruf yang kita perlukan! Tapi Bahasa Jepang bisa menggunakan sistem seperti itu dengan baik karena jumlah suaranya sangat sedikit dibandingkan bahasa Indonesia.

Suara-suara pada hiragana

Huruf-huruf hiragana dasar sebetulnya sangat gampang cara kerjanya. Suara vokal di bahasa Jepang ada 5 yaitu “a”, “i”, “u”, “e”, dan “o” yang hiragananya masing-masing adalah あ, い, う, え, dan お. Perlu kamu ingat bahwa suara “e” pada bahasa Jepang seperti pada “enak”, tidak pernah seperti pada “elus”. Berikutnya adalah hiragana yang melambangkan suara konsonan + vokal misalnya さ (sa), ゆ (yu), dan み (mi). Struktur konsonan + vokal inilah yang memberikan nuansa khusus pada kata dan nama Jepang, seperti pada “kawasaki”, “fujimoto”, dan “suzuki”. Lalu terakhir ada hiragana spesial ん yang melambangkan satu-satunya suara mati “n”. “n” ini biasanya ditempelkan di belakang hiragana lain, misanya さ (sa) dengan ん (n) yang membentuk さん (san).

Romaji akan disertakan di tutorial ini, dan untungnya untuk sebagian besar kasus cara membacanya seakan-akan seperti membaca bahasa Indonesia. “ba” dibaca seperti pada “bata”-nya bahasa Indonesia, “ta” dibaca seperti pada “tani”-nya bahasa Indonesia, “ni” dibaca seperti pada “nipu”-nya bahasa Indonesia, dan seterusnya.

Tapi tentu saja ada perbedaan di kasus-kasus tertentu. Sebagai contoh, pada “watarasebashi” terdapat suara “r”. Getaran pada “r”-nya bahasa Jepang tidak sekuat “r”-nya bahasa Indonesia. Jadi dia berada di antara “r” dan “l”-nya bahasa Indonesia. Isu-isu lain yang berhubungan dengan cara membaca akan dibahas seperlunya saat kasusnya muncul.

Yang terakhir perlu diketahui untuk saat ini adalah keberadaan beberapa huruf hiragana kecil. Sebagai contoh, bandingkan ukuran や (ya) dengan ゃ (ya kecil). Hiragana kecil digunakan untuk menuliskan suara di luar struktur konsonan + vokal. Contohnya adalah suara “kya” yang ditulis sebagai き (ki) ditambah hiragana kecil ゃ (ya). Bandingkan きや (kiya) dengan きゃ (kya).

Penutup

Tujuan episode ini adalah memberi kamu sedikit gambaran tentang bagaimana hiragana bekerja. Yang perlu kamu ingat adalah:

  • Tiap huruf hiragana melambangkan suatu silabel sehingga bisa langsung dibunyikan. Contohnya adalah も yang bunyinya “mo”.
  • Huruf hiragana melambangkan suara vokal seperti い (i), konsonan+vokal seperti か (ka), atau huruf mati ん (n).
  • Terdapat hiragana kecil untuk menuliskan suara-suara yang lebih kompleks. Contohnya adalah みょ (myo) yang menggunakan ょ (yo kecil). Bandingkan dengan みよ (miyo).

Penjelasan hiragana di sini tidaklah menyeluruh, jadi kalau kamu ingin menguasai hiragana mulai dari sekarang silahkan kunjungi referensi yang lebih lengkap. Kamu bisa melihat Tutorial Tae Kim dan bab di Wikibooks tentang pelafalan bahasa Jepang beserta penulisan hiragana.

Saran saya adalah mulai mempelajari hiragana dari sekarang sedikit demi sedikit. Jumlah simbolnya tidak terlalu banyak yaitu sekitar 50, dan kamu bisa mencicil sesuai dengan waktu yang kamu punya. Di sini memang disertakan romaji, namun tujuannya adalah supaya kamu bisa langsung belajar tata bahasanya sembari mempelajari hiragana. Adanya romaji jangan sampai membuat kamu malas belajar hiragana.

Di episode berikutnya, kita akan melihat jenis huruf yang membuat bahasa Jepang tertulis begitu indah: kanji!