Category Archives: Pemula

  • 0

Wakamono Kotoba, Bahasa Jepang Anak Muda

Tags :

Category : Budaya , Pemula

Terima kasih atas kesabarannya menunggu selama beberapa waktu terakhir yang kosong ini. Sekarang Yumeko siap mengeluarkan artikel-artikelnya kembali, dan kita akan mulai dengan topik wakamono kotoba yang diminta oleh irfan-san.

Wakamono kotoba (若者言葉) adalah bahasa percakapan anak muda. Dalam gaya bahasa ini, digunakan kosakata-kosakata khusus yang terdengar “gaul” dan mungkin “cool”. Di sini kita akan melihat sedikit kata-katanya beserta alternatif standarnya.

chou (超)

Ini adalah awalan yang artinya “super”. Contoh penggunaannya adalah chou-oishii (super lezat) dan chou-kawaii (super imut). Alternatif standarnya adalah monosugoku dan hontou ni (tidak sekuat monosugoku). Kanji chou sendiri digunakan pada kata seperti chou-tokkyuu (超特急, kereta super ekspres).

kimoi (キモい)

Artinya adalah “menjijikkan” yang berasal dari kimochi warui (perasaan buruk, menjijikkan). Misalnya, kalau kamu melihat ulat bulu dan merasa jijik dengan binatang tersebut, kamu bisa menggunakan kata kimoi.

maji (マジ)

Artinya adalah “serius” dan berasal dari majime (serius). Kata ini sering digunakan sebagai ekspresi saat kaget mendengar sesuatu: “maji???” atau “maji de????” (“serius???”, “yang bener???”). Bisa juga digunakan sebagai adjektiva misalnya maji na kao (muka serius).

Menggunakan kata-kata tersebut dengan orang dan situasi yang tepat, percakapan kamu bisa terdengar jauh lebih alami dan tidak kaku. Apa kamu sendiri punya kosakata slang favorit? Sebagai penutup, kalau kamu bertemu kata-kata yang kelihatannya wakamono kotoba dan tidak ada di kamus umum, kamu bisa coba cari di kamus zokugo.


  • 0

Kata Paling Berbahaya di Bahasa Jepang: Anata

Category : Budaya , Kosakata , Pemula

Kalau di bahasa Jepang ada gelar “kata paling berbahaya”, maka tidak diragukan lagi bahwa yang paling pantas menyandangnya adalah kata “anata“. anata adalah kata ganti orang kedua, jadi dia berarti semacam “anda” atau “kamu”. Dilihat sekilas, sepertinya itu kata yang normal dan bukan kata umpatan atau semacamnya. Tapi kenapa dia berbahaya?

Ini berhubungan dengan masalah sopan-santun dan kalimat yang alami di bahasa Jepang. anata sering dianggap sebagai kata normal oleh pemula, jadi pemula akan menggunakannya secara bebas dan sering. Padahal anata hanya bisa digunakan di kasus-kasus tertentu. Jadinya kata tersebut sering disalahgunakan, yaitu digunakan tidak pada tempatnya.

Cara memanggil “kamu” yang benar di bahasa Jepang

“Kamu!”

Tentu setiap bahasa ada untuk memfasilitasi interaksi antar dua orang. Oleh karenanya, pastilah ada konsep “aku” dan “kamu”. Namun di bahasa Jepang, menyebut anata (kamu) adalah cara yang terlalu langsung sehingga terdengar vulgar atau tidak sopan. Ini seakan-akan kamu menunjuk persis ke wajahnya sambil mengatakan “kamu!”. Kalau digunakan dengan teman mungkin dia tidak akan marah, tapi paling tidak hal tersebut tetap akan terdengar aneh.

Kalau kita memang perlu mengacu pada lawan bicara, cara yang sopan dan paling alami adalah dengan menyebut nama orangnya dengan ditambah akhiran yang bersesuaian. Akhiran-akhiran tersebut misalnya san (akhiran sopan umum), sensei (guru, dokter, dsb.), dan chan (untuk anak kecil atau teman dekat perempuan). Contohnya adalah Takahashi-sensei, Tanaka-san, dan San-chan. Umumnya kita menggunakan nama keluarga (Tanaka Reina, Fujimoto Miki, dsb) kecuali kalau kita sudah kenal dekat orangnya.

Inilah contohnya (yang merah contoh salah):

あなたはいつ帰りますか (誤)
anata wa itsu kaerimasu ka (salah)
新垣さんはいつ帰りますか
niigaki-san wa itsu kaerimasu ka

Kapan anda (Niigaki-san) pulang?

……
Cara lain untuk mengacu lawan bicara adalah dengan hanya menyebut gelar atau jabatannya. Contohnya adalah sensei (guru) dan shachou (pemimpin perusahaan). Ini contohnya:

あなたはジャズが好きですか (誤)
anata wa jazu ga suki desu ka (salah)
先生はジャズが好きですか
sensei wa jazu ga suki desu ka

Apakah bapak (guru) suka Jazz?

……
Tidak memanggil “kamu” sama sekali
Tentu saja kalau konteksnya sudah jelas, kita bisa saja membuat kalimat benar tanpa menggunakan “kamu” sama sekali. Contohnya kalimat di atas akan menjadi seperti ini:

いつ帰りますか
itsu kaerimasu ka
Pulangnya kapan?

Perhatikan bahwa di bahasa Indonesia pun kita juga bisa membuat kalimat-kalimat tanpa “kamu”. Contoh bahasa Indonesia lainnya misalnya “Mau pergi ke mana?”, “Tinggalnya di mana?”, dan “Lagi baca apa?”. Jadi ini bukanlah konsep yang aneh.

Ini terutama berguna kalau kita bicara dengan orang yang tak dikenal misalnya, karena tentu kita belum tahu namanya. Ini beberapa contohnya:

すみません、あなたは橋本さんですか (誤)
sumimasen, anata wa hashimoto-san desu ka (salah)
すみません、橋本さんですか
sumimasen, hashimoto-san desu ka

Maaf, Pak Hashimoto bukan ya?

……

あたなの名前は何ですか (誤)
anata no namae wa nan desu ka (salah)
お名前は何ですか
onamae wa nan desu ka

Namanya siapa ya?

……
Karena kita mengacu pada “nama” lawan bicara, akan lebih sopan jika digunakan awalan o- (sehingga menjadi onamae) seperti pada contoh.

Kapan anata digunakan?
Kalau anata sebegitu tabunya, untuk apa ada kata ini? Tentu saja, terdapat kasus-kasus khusus di mana kita bisa menggunakannya.

anata digunakan misalnya di angket, formulir, atau iklan. Di kasus-kasus tersebut anata bisa digunakan karena kita tidak mungkin mengenal nama orangnya dan karena kita tidak bertatap muka dengan orangnya secara langsung.

あなたの本を出版します
anata no hon o shuppan shimasu
Kami akan menerbitkan bukumu!

……

Berikut adalah contoh dari form registrasi di Internet:

ぷっちょ会員登録が完了すると、あなたのメールに登録完了メールが送られています
puccho kaiin touroku ga kanryou suru to, anata no meeru ni touroku kanryou meeru ga okurarete imasu
Jika proses registrasi anggota Puccho telah selesai, email pemberitahuan (mengenai selesainya proses registrasi) akan dikirimkan ke alamat email kamu

……

anata juga bisa digunakan di lagu, karena pada lagu kita sebetulnya tidak berbicara langsung dengan orang yang dimaksud. Pada bagian-bagian yang menggunakan anata umumnya sang penyanyi sedang berbicara (berkisah) sendiri, atau sekedar menumpahkan perasaannya pada lagu.

あなたが好き [Kokuhaku no Funsui Hiroba: | ]
anata ga suki
Aku cinta kamu

……

そう、今すぐあなたに会いたいよ [Manopiano: | ]
sou, ima sugu anata ni aitai yo
Ya, aku ingin bertemu denganmu sekarang juga

……

Kalau kita berbicara langsung dengan orangnya, maka yang lebih alami adalah hanya “suki” dan “ima sugu aitai yo” atau menggunakan nama orangnya misalnya “ima sugu bima-kun ni aitai yo“.

Terakhir, di film-film kamu mungkin akan menemukan istri memanggil suaminya anata. Itu adalah sebutan sayang istri kepada suami walaupun hal tersebut kini terdengar cukup kuno. Artinya di sini bukan “kamu”, tapi lebih ke arah “sayangku” atau “suamiku sayang”.

Penutup

anata sepertinya banyak disalahgunakan oleh pemula karena pengaruh bahasa Inggris. Saat belajar bahasa Inggris, kita dibiasakan (terpaksa) untuk menggunakan kata “you”. Bayangkan saja kalimat seperti “Do you like Jazz” dan “I love you” yang mau tidak mau harus menggunakan “you”. Oleh karenanya, saat belajar bahasa Jepang yang juga merupakan bahasa asing para pemula cenderung terjebak untuk menggunakan anata.

Padahal seperti telah kita bahas, menggunakan anata kemungkinan besar akan terdengar aneh atau malah tidak sopan. Bahasa Jepang bukan bahasa Inggris, jadi kita harus tahu beda penggunaan kata-katanya. Oleh karenanya berhati-hatilah dan cobalah gunakan tips-tips di artikel ini untuk mengakali kalimatmu agar tidak menggunakan anata.

Agar tidak terlalu panjang, untuk saat ini pembahasannya akan kita akhiri. Namun topik anata ini masih akan kita lanjutkan lagi kapan-kapan. Kalau kamu termasuk orang yang terkena sindrom menggunakan anata kapanpun dan di manapun, semoga artikel ini berguna! Mata kondo!


  • 0

Cara yang Tepat Memodifikasi Nomina

Category : Pemula

Nomina, atau kata benda, akan cepat membuat bosan kalau terus berdiri sendiri. Sebut saja hana (bunga) misalnya. Mendengar kata tersebut, berikutnya tentu muncul berbagai pertanyaan di benak kita. Seperti apa bunganya? Apakah dia besar? Warnanya apa? Sedang apa?

Dengan memodifikasi nomina tersebut, benda yang dimaksud jadi memuat lebih banyak informasi. Dengan kata lain, lebih berwarna. Coba saja baca dan banyangkan “bunga kecil”, “bunga besar”, “bunga merah”. Sangat berguna kan?

Nah, kita bisa memodifikasi nomina dengan berbagai jenis kata: nomina lain, adjektiva (kata sifat), dan verba (kata kerja). Secara umum, ada dua cara untuk menempelkan informasi tambahan ke nominanya: langsung atau dibantu partikel. Jadi mari kita lihat kedua cara tersebut agar tidak tertukar-tukar.

Adjektiva-i dan verba
Pertama-tama, ingat bahwa adjektiva dibagi menjadi adjektiva-i dan adjektiva-na. Secara umum, adjektiva-i diakhiri dengan hiragana i (い) (perkecualiannya, kirei (indah, bersih) dan kirai (benci) bukan adjektiva-i). Silahkan baca artikel ini untuk mengulasnya.

Adjektiva-i dan verba sangatlah mirip dalam kelakuannya memodifikasi nomina. Anggap mereka seperti stiker, jadi bisa langsung ditempelkan ke nominanya tanpa perlu bantuan partikel apapun. Sebagai contoh, jika kita ingin menempelkan adjektiva-i chiisai (kecil) ke hana, maka tinggal tempelkan saja:

小さい花
chiisai hana
bunga yang kecil

Seperti sudah dijelaskan, adjektiva-i sudah dari sananya “lengket” seperti stiker sehingga bisa langsung ditempelkan. Yang perlu diperhatikan hanyalah bahwa urutannya terbalik dengan bahasa Indonesianya: nomina yang dijelaskan muncul terakhir.

Verba juga cara kerjanya sama. Perhatikan contoh berikut:

揺れる花
yureru hana
bunga yang berayun-ayun

Nomina dan adjektiva-na
Di lain pihak, nomina dan adjektiva-na cara kerjanya berbeda dengan yang sebelumnya dijelaskan. Nomina dan adjektiva-na tidaklah lengket, jadi kalau ingin ditempelkan ke nomina kita harus menggunakan perekat yang berupa partikel.

Untuk adjektiva-na, partikelnya adalah… na (ya, sesuai namanya).

素敵な花
suteki na hana
bunga yang indah

Untuk nomina, partikelnya adalah no.

私の花
watashi no hana
bunga milikku

Partikel no selain menyatakan kepemilikan (seperti di atas) juga bisa menyatakan sifat umum bendanya, seperti contoh-contoh berikut:

桜の花
sakura no hana
bunga sakura (bunga yang “bersifat” sakura)

(tentunya contoh di atas juga bisa berarti “bunga milik seseorang bernama Sakura”)

娘の名雪と母の秋子
musume no nayuki to haha no akiko
Nayuki yang merupakan sang anak dan Akiko ibunya (Nayuki yang “bersifat” anak perempuan dan Akiko yang “bersifat” ibu)

埼玉県のひとみさん
saitama-ken no hitomi-san
Hitomi-san dari Prefektur Saitama (Hitomi-san yang “bersifat” Prefektur Saitama)

Infleksi
Infleksi negatif seperti janai dan tabenai, maupun lampau seperti shita, nakatta, dan datta juga sudah bersifat lengket. Mereka bisa dianggap seperti adjektiva-i maupun verba. Jadi tinggal langsung ditempelkan:

綺麗だった川
kirei datta kawa
sungai yang dulu bersih

大学生じゃない人
daigakusei janai hito
orang yang bukan anak kuliahan

Ingat bahwa bentuk sopan (desu, -masu, -masen, dll) hanya digunakan untuk mengakhiri kalimat. Jadi tidak bisa untuk memodifikasi nomina. Sebagai contoh, nomimasen kata (orang yang tidak minum) salah! Yang benar adalah menggunakan bentuk biasanya, nomanai kata.

Nomina gramatikal
Beberapa konstruksi tata bahasa penting di bahasa Jepang menggunakan nomina. Contohnya, koto, you, dan hou semuanya merupakan nomina. Jadi semua aturan di atas berlaku.

食べた方がいい
tabeta hou ga ii
Sebaiknya makan

稲妻のように速い
inazuma no you ni hayai
secepat kilat (cepat bagai kilat)

馬鹿なこと言うな!
baka na koto iu na!
Jangan ngomong hal-hal bodoh!

行くことになりました
iku koto ni narimashita
telah diputuskan bahwa saya akan pergi

Penutup
Seperti yang sudah dijelaskan, jangan sampai menggunakan partikel no atau na untuk menghubungkan adjektiva-i dan verba ke nomina. Sebagai contoh, kawaii no neko (kucing imut) salah! Yang betul adalah kawaii neko. benkyou shita no hou ga yokatta (harusnya waktu itu belajar) juga salah. Yang benar adalah benkyou shita hou ga yokatta.

Di atas diberi analogi bahwa partikel na atau no bertindak sebagai lem. Lem untuk menghubungkan nomina ke nomina lain misalnya. Nah, karena adjektiva-i dan verba sudah seperti stiker (otomatis bisa menempel), kita tidak perlu partikel apapun. Menggunakan partikel malah seperti menggunakan lem pada stiker untuk menempelkannya: bukan ide bagus, dan salah!


  • -

Tutorial Watarasebashi #11 – Konsonan Bersuara Pada Kata Gabungan

Tags :

Category : Budaya , Pemula

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Setelah mempelajari pengelompokan kana menjadi baris-baris tertentu, sekarang kita akan belajar suara-suara konsonan tambahan yang diperoleh dengan memodifikasi suara-suara dasarnya. Setelahnya, kita akan bisa memamahi pembentukan kata watarasebashi dan kata-kata lain yang sejenis.

Konsonan bersuara dan plosif

Beberapa suara konsonan bunyinya mirip dengan konsonan lain. Contohnya, coba kamu buat suara “ta” dan “da” dengan mulutmu, lalu bandingkan gerakan lidah dan bunyi keduanya. Mirip kan?

Fonologi Jepang sadar akan kemiripan tersebut, dan oleh karenanya hiragana untuk “da” hanyalah hiragana “ta” yang diberi tanda tambahan:

tanda dakuten

Tanda yang memodifikasi suara tersebut adalah dua garis kecil yang mirip tanda kutip (゛) dan disebut dakuten (濁点). Karena bentuk garis kecilnya disebut ten (点), kadang-kadang tanda itu secara informal disebut tenten (点々). Suara konsonan hasil modifikasinya disebut sebagai konsonan bersuara (voiced consonant).

Daftar perubahan suara yang mungkin dengan tanda dakuten adalah k→g, s→z, t→d, dan h→b. Beberapa suara perkecualian pada kana dasar juga menghasilkan perkecualian jika disuarakan, misalnya “shi” (し) yang menjadi “ji” (じ) dan bukan “zi”.

Terdapat juga tanda lingkaran (゜) yang mengubah suara vokal h→p. Tandanya disebut handakuten (半濁点) atau secara informal maru (丸). Suara konsonan p ini secara teknis disebut plosif.

Inilah daftar seluruh suara modifikasi tersebut:

Vokal
a i u e o
k→g
ga

gi

gu

ge

go
s→z
za

ji

zu

ze

zo
t→d
da

ji

dzu

de

do
h→b
ba

bi

bu

be

bo
h→p
pa

pi

pu

pe

po

Perhatikan bahwa suara “ji” bisa ditulis dengan じ maupun ぢ. Hampir selalu, yang digunakan adalah じ. づ suaranya adalah “dzu” namun seringkali dalam romanisasi ditulis “zu”.

Penyuaraan dalam pembentukan kata

Di bahasa Jepang, jika dua kata digabung menjadi satu kata baru, seringkali konsonan awal pada kata kedua disuarakan. Misalnya, suara yang aslinya “h” berubah menjadi “b” pada kata gabungan. Dengan pengetahuan ini, sekarang jelas kenapa watarase (nama) + hashi (jembatan) menjadi watarasebashi (Jembatan Watarase)!

Di bawah akan diberikan contoh-contoh gabungan kata yang semuanya menggunakan penyuaraan. Formatnya adalah kuis, jadi coba jawab sebelum melihat kuncinya. Silahkan menggunakan tabel perubahan suara di atas sebagai referensi.

1) shabon (sabun) + tama (bola) =
Jawaban: shabondama (gelembung sabun)
2) watarase (nama) + kawa (sungai) =
Jawaban: watarasegawa (Sungai Watarase)
3) takara (harta karun) + hako (kotak) =
Jawaban: takarabako (kotak harta karun)
4) hyoutan (nama) + shima (pulau) =
Jawaban: hyoutanjima (Pulau Hyoutan)
5) hana (bunga) + hi (api) =
Jawaban: hanabi (kembang api)
6) hito (orang) + hito (orang) =
Jawaban: hitobito (orang-orang)
7) ao (biru) + sora (langit) =
Jawaban: aozora (langit biru)
8) ya (panah) + shirushi (tanda) =
Jawaban: yajirushi (tanda panah)
9) hana (hidung) + chi (darah) =
Jawaban: hanaji (mimisan)
10) suika (semangka) + hatake (ladang) =
Jawaban: suikabatake (ladang semangka)

Di atas telah disebutkan bahwa suara “ji” umumnya ditulis dengan じ. Namun perhatikan bahwa hanaji jika ditulis dengan hiragana adalah はなぢ dan bukan はなじ. Ini mudah dimengerti karena kata pembentuk keduanya adalah ち (chi, darah) dan bukan し (shi).

Terakhir, perlu diingat juga bahwa penyuaraan yang telah dibahas tidaklah universal. Sebagai contoh, niwa (taman) + ki (pohon) adalah niwaki (pohon taman) tanpa penyuaraan. kutsu (sepatu) + shita (bawah) juga hasilnya hanyalah kutsushita (kaos kaki).

Penutup

Kita telah selesai membahas judulnya. Selanjutnya, kita akan mulai membahas tata bahasa yang terdapat pada liriknya. Sampai jumpa!

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

橋 (hashi): jembatan
渡良瀬橋 (watarasebashi): jembatan Watarase
島 (shima): pulau
ひょうたん島 (hyoutanjima): pulau Hyoutan (dengar lagunya!)
シャボン (shabon): sabun
シャボン玉 (shabondama): gelembung sabun
川 (kawa): sungai
渡良瀬川 (watarase): sungai Watarase
宝 (takara): harta karun
箱 (hako): kotak
宝箱 (takarabako): kotak harta karun
花 (hana): bunga
火 (hi): api
花火 (hanabi): kembang api
人 (hito): orang
人々 (hitobito): orang-orang
青 (ao): biru
空 (sora): langit
青空 (aozora): langit biru
矢 (ya): panah
印 (shirushi): tanda
矢印 (yajirushi): tanda panah
鼻 (hana): hidung
血 (chi): darah
鼻血 (hanaji): mimisan (hidung berdarah)
スイカ (suika): semangka
畑 (hatake): ladang
スイカ畑 (suikabatake): ladang semangka
庭 (niwa): taman
木 (ki): pohon
庭木 (niwaki): pohon taman
靴 (kutsu): sepatu
下 (shita): bawah
靴下 (kutsushita): kaos kaki


  • 0

Penjumlahan dan pengurangan

Kemarin kita mempelajari kanji 一, 二, 三, dan 十. Seperti dijanjikan, kita sekarang akan menggunakannya untuk sedikit berhitung. Berita buruknya adalah, sebetulnya di matematika, dan untuk hal-hal yang menggunakan angka pada umumnya, kanjinya tidak dipakai lagi! Ya, simbol yang telah kita kenal baik yaitu 0-9 lebih banyak digunakan di zaman modern ini. Namun berita baiknya adalah kanji tersebut belum sepenuhnya hilang! Beberapa istilah umum masih menggunakan kanjinya, dan terkadang ada yang sengaja menggunakan kanjinya untuk memberikan sehembus aura kuno atau kesan klasik.

Contohnya, cover belakang majalah Bungei Shunjuu yang saya punya menggunakan kanji untuk harganya:

Bisa melihat kanji 三 di situ kan? (Harganya adalah 730 yen)

Sekarang kembali ke topik kita kali ini yaitu berhitung. Kita akan belajar penjumlahan dan pengurangan, jadi pertama-tama mari kita pelajari istilahnya.

Menambah

“Menambah” dalam bahasa Jepang adalah 足す (たす, tasu). Nemonik untuk menghafalkannya adalah “tas”.

Mengurangi

“Mengurangi” dalam bahasa Jepang menggunakan kata 引く (ひく, hiku) yang artinya “menarik”. Nemonik untuk menghafalkannya adalah anak yang menangis. Anak yang sedang menangis karena ngambek tidak mau pulang akan bersuara “hik, hik”.

Membaca persamaan

Walaupun tidak umum untuk matematika, kita akan sengaja menggunakan kanji karena memang ingin berlatih membacanya. Lihat persamaan berikut:

一 + 一 = 二

Simbol = dibaca は (wa), jadi cara membacanya adalah “いち たす いち は に” (ichi tasu ichi wa ni). Mudah bukan? は (wa) yang kita gunakan adalah partikel topik.

Berikutnya pengurangan:

二 - 一 = 一

Mungkin kamu sedikit pusing (atau geli?) melihat serentetan garis-garis horizontal tersebut. Bertahanlah. Cara membacanya adalah “に ひく いち は いち” (ni hiku ichi wa ichi).

Latihan

Untuk menutup tulisan kali ini, silahkan latihan membaca persamaan-persamaan berikut. Sorot bagian yang abu-abu untuk melihat kuncinya:

Soal Kunci jawaban
二 + 一 = 三 に たす いち は さん (ni tasu ichi wa san)
三 + 三 + 三 + 一 = 十 さん たす さん たす さん たす いち は じゅう (san tasu san tasu san tasu ichi wa juu)
三 - 二 + 一 = 二 さん ひく に たす いち は に (san hiku ni tasu ichi wa ni)

Materi besok adalah cara membaca persamaan integral. (bercanda, bercanda!)