Gaya Pernikahan Jepang, Dulu dan Sekarang

  • -

Gaya Pernikahan Jepang, Dulu dan Sekarang

Category : Budaya

Jepang dikenal sebagai negara yang dipenuhi dengan keunikan, eksotisme, festival dan tentunya bunga sakura yang menjadi ciri khas negara ini.

Tradisi pernikahan (souvenir pernikahan) Jepang adalah salah satu tradisi pernikahan tertua yang masih dipertahankan seperti aslinya sampai sekarang.

Negara yang sudah terhitung sebagai negara maju  ini, ternyata memiliki kebiasaan menikah yang sangat menarik.

Berikut saya paparkan penjelasannya.

Pernikahan Jepang  Tahun 1900 – 2000

Saat menikah orang Jepang mempunyai dua jenis pakaian yang umum dipakai, yaitu gaya Jepang dan gaya barat.

Gaya Jepang adalah pakaian tradisional turun temurun budaya Jepang dari jaman dulu. Sudah tahu pasti kan? Ya, benar! Pakaian pengantin bergaya Jepang yang dipakai oleh pengantin Jepang adalah kimono berwarna putih, yang memang khusus digunakan sebagai gaun pernikahan tradisional Jepang.

Sementara gaya barat yang dimaksud adalah gaun-gaun pernikahan yang berupa dress dengan sentuhan Eropa dan Amerika.

Upacara pernikahan yang diadakan di Jepang umumnya diselenggarakan dalam dua pilihan cara. Jika keluarga dan pengantin masih berpegang erat dengan tata cara pernikahan tradisional, maka upacara yang diadakan akan berlangsung di kuil Shinto.

Sementara apabila keluarga dan pengantin tidak terlalu terikat cara tradisional dan memiliki preferensi sendiri, biasanya pernikahan akan diadakan di gereja dengan cara Kristiani.

Tapi ini tidak berarti kedua pengantin maupun keluarganya beragama Kristen. Mereka hanya menggunakan tata cara pernikahannya saja.

Di Jepang, para tamu pernikahan memberikan uang sebagai hadiah. Hadiah uang ini dimasukkan dalam amplop yang memiliki dekoratif khusus yang dinamakan Goshugibukuro.

Dekoratif Goshugibukuro berbentuk simpul tali yang menggambarkan ikatan pernikahan yang kekal dan tidak putus. Sementara, untuk uangnya sendiri, orang Jepang biasanya akan memberikan jumlah kepala ganjil.

Uang yang paling umum dihadiahkan adalah 30.000 yen. Sementara orang-orang yang lebih tua biasanya memberikan 50.000 Yen.

Angka ganjil ini melambangkan angka yang tidak bisa dibagi dua. Sebagai tanda, pasangan yang menikah ini telah jadi satu, dan tidak bisa jadi dua kembali. Romantis sekali bukan Goshugibukuro ini.

Pernikahan Jepang pada 2000 – sekarang

Dari mulai tahun 2000an, kebiasaan pernikahan di Jepang cenderung berubah. Kebanyakan pasangan hanya mendaftarkan diri mereka ke  catatan sipil. 33% Orang Jepang, dalam survey di Japan Today, bahkan berpikir bahwa pernikahan adalah hal yang merepotkan dan sia-sia.

Jasa ‘mak comblang’ pun, semakin lumrah digunakan di Jepang, sama seperti di negara-negara maju lainnya.

Orang Jepang dalam usia siap menikah malah sedang semangat-semangatnya mengejar promosi di kantor dan membangun karir.

Wanita Jepang banyak yang menganggap pernikahan adalah hambatan bagi karir mereka karena persaingan yang sangat ketat . Mereka menyadari pernikahan akan membuat mereka tidak bisa fokus seratus persen ke pekerjaan mereka.

Belum lagi kenyataan banyak wanita Jepang dalam usia siap menikah berpikiran punya anak itu merepotkan karena membuat mereka terpaksa mengambil maternity leave dan harus ketakutan posisi mereka digantikan orang ketika mereka tidak ada.

Apabila orang Jepang terdahulu kerap kali menikah di umur yang cenderung muda, orang Jepang sekarang menikah ‘terlambat’.

Terlambat yang berarti, seandainya mereka menikah, mereka akan menikah setelah posisi mereka di perusahaan atau di masyarakat aman, atau setelah melewati masa puncak karir mereka. Inilah yang disebut orang Jepang menikah ‘terlambat’.

Faktor anggapan sosial pun berperan dalam menciptakan suasana ‘tidak ingin menikah’ di Jepang. Seperti tingginya angka perceraian yang membuat 40% orang Jepang beranggapan, “Untuk apa menikah kalau pada akhirnya cerai juga.”