Monthly Archives: March 2010

  • 0

Reading Lights: Membeli Buku Bekas Bahasa Jepang di Bandung

Category : Reportase

Buat kamu orang Bandung yang mencari materi membaca bahasa Jepang cetak yang murah meriah, kamu bisa datang ke toko buku Reading Lights. Alamat lengkapnya ada di Jalan Siliwangi no. 16 (tidak terlalu jauh dari ITB). Saya baru-baru ini ke sana, dan artikel ini adalah sedikit ulasan tentangnya.

Begitu masuk Reading Lights, kamu akan menemui banyak rak buku. Buku-buku di Reading Lights adalah buku bekas sehingga bisa dibeli dengan harga yang murah. Kebanyakan bukunya berbahasa Inggris, namun kamu juga bisa menemui koleksi buku atau majalah berbahasa Jepang dan bahasa lainnya seperti Perancis, Jerman, China, dan Belanda.

Kamu bisa membaca-baca dengan gratis, bahkan sambil menikmati hot spotnya. Kita juga bisa memesan minuman di sana. Suasananya adem, tenang, dan nyaman untuk terbenam dalam buku-buku. Para stafnya juga sangat bersahabat dan membantu.

Koleksi buku bahasa Jepang mereka sendiri relatif agak terbatas, namun saya rasa kamu bisa menemukan yang menarik minatmu. Ada majalah Bungei Shunjuu yang banyak berisi esai-esai dan artikel-artikel layaknya pada Reader’s Digest. Ada majalah Yahoo! Internet Guide buat mereka yang tertarik dengan komputer. Ada Orange Page untuk makanan dan kuliner. Ada berbagai komik shoujo dan terjemahan bahasa Jepang dari buku cerita luar negeri. Ada juga majalah yang ditujukan untuk wanita dengan tulisan-tulisan tentang fashion maupun kecantikan seperti Maple dan Bene Bene. Masih ada beberapa yang lain, jadi silahkan datang sendiri dan lihat-lihat koleksinya.

Yang paling menggiurkan di sini adalah harganya. Waktu saya mengunjungi Reading Lights beberapa waktu yang lalu, majalah-majalah bahasa Jepang dengan label harga lama Rp. 10.000 diturunkan menjadi Rp. 3.500 di counter. Bayangkan saja betapa senangnya saya bisa mendapat Bungei Shunjuu yang dipenuhi teks jepang sebanyak kurang lebih 500 halaman dengan harga yang murah!

Saya sudah pernah ke Reading Lights dua kali. Waktu pertama kali ke sana untuk membeli beberapa majalah, saya masih kepayahan bahkan untuk membaca satu paragraf saja. Setiap berganti kata, saya perlu menyelidiki kanjinya dan membuka-buka kamus. Dengan kecepatan membaca merangkak seperti itu, rasanya bukan seperti membaca tapi seperti menguak tulisan kuno misterius. Ditambah lagi, walaupun sudah menyelidiki kata-kata yang muncul di kalimatnya menggunakan kamus, seringkali saya masih bingung menangkap maksud kalimatnya secara keseluruhan.

Saya tidak membaca habis semua yang saya beli pertama kali tersebut. Saya bahkan ragu apa 10%-nya terbaca. Karena banyak halaman pilihan, kalau bosan atau lelah di tengah suatu artikel saya tinggal loncat ke artikel lainnya. Yang penting bukannya menyelesaikan membaca suatu tulisan dari awal sampai akhir, tapi terus membaca dan membaca walaupun loncat-loncat.

Fast forward beberapa tahun ke depan, saya rasa semua itu ada hasilnya. Saya mencoba membaca-baca majalah yang saya beli kemarin, dan walaupun sekarang masih sesekali perlu kamus untuk pemahaman total, frekuensi penggunaannya sudah jauh berkurang. Kanji baru yang muncul pun nyaris tidak ada. Bahkan, untuk artikel-artikel yang tidak terlalu “teknis” atau “akedemis”, saya bisa saja membacanya di kasur tanpa kamus dengan melewati atau menebak hal-hal yang tidak bisa dibaca dan tetap memahami sebagian besar isinya.

Kalau ada buku-buku tergeletak di rumah, pasti kita akan tergoda untuk membacanya. Oleh karenanya, coba saja datang ke sana dan iseng membeli beberapa. Mungkin efeknya tidak akan terlihat hanya dari sehari atau dua hari membaca, tapi kalau kamu terus berlatih pasti ada hasil yang signifikan setelah waktu yang cukup panjang.

Harapan saya adalah agar koleksi bahasa Jepang di Reading Lights semakin bertambah. Sebagai contoh, selain manga shoujo alangkah baiknnya kalau ada manga shounen misalnya. Lalu mungkin kalau punya majalah-majalah yang berhubungan dengan kultur pop misalnya musik, anime, dan idol (Kindai, BLT, dsb), akan menarik juga pembaca yang tertarik dengan budaya Jepang walaupun belum terlalu belajar bahasanya. Terakhir, selain majalah alangkah baiknya kalau punya juga koleksi novel asli Jepang (novel klasik Natsume Soseki atau Suzumiya Haruhi misalnya, bukan novel Inggris terjemahan) dan buku non-majalah. Reading Lights membeli buku-buku bekas jadi kalau kamu punya koleksi yang sudah tidak dibaca lagi mungkin bisa dijual ke sana agar berguna buat pelajar lain.

Kalau kamu berada di daerah lain misalnya Jakarta, Jogja, atau Bali dan tahu toko-toko buku bekas yang menyediakan buku bahasa Jepang, silahkan tulis di komentar! Lalu, kalau kamu punya majalah atau buku Jepang favorit yang ingin muncul di toko buku-toko buku seperti Reading Lights, beri tahu juga ya!


  • 0

Kata Paling Berbahaya di Bahasa Jepang: Anata

Category : Budaya , Kosakata , Pemula

Kalau di bahasa Jepang ada gelar “kata paling berbahaya”, maka tidak diragukan lagi bahwa yang paling pantas menyandangnya adalah kata “anata“. anata adalah kata ganti orang kedua, jadi dia berarti semacam “anda” atau “kamu”. Dilihat sekilas, sepertinya itu kata yang normal dan bukan kata umpatan atau semacamnya. Tapi kenapa dia berbahaya?

Ini berhubungan dengan masalah sopan-santun dan kalimat yang alami di bahasa Jepang. anata sering dianggap sebagai kata normal oleh pemula, jadi pemula akan menggunakannya secara bebas dan sering. Padahal anata hanya bisa digunakan di kasus-kasus tertentu. Jadinya kata tersebut sering disalahgunakan, yaitu digunakan tidak pada tempatnya.

Cara memanggil “kamu” yang benar di bahasa Jepang

“Kamu!”

Tentu setiap bahasa ada untuk memfasilitasi interaksi antar dua orang. Oleh karenanya, pastilah ada konsep “aku” dan “kamu”. Namun di bahasa Jepang, menyebut anata (kamu) adalah cara yang terlalu langsung sehingga terdengar vulgar atau tidak sopan. Ini seakan-akan kamu menunjuk persis ke wajahnya sambil mengatakan “kamu!”. Kalau digunakan dengan teman mungkin dia tidak akan marah, tapi paling tidak hal tersebut tetap akan terdengar aneh.

Kalau kita memang perlu mengacu pada lawan bicara, cara yang sopan dan paling alami adalah dengan menyebut nama orangnya dengan ditambah akhiran yang bersesuaian. Akhiran-akhiran tersebut misalnya san (akhiran sopan umum), sensei (guru, dokter, dsb.), dan chan (untuk anak kecil atau teman dekat perempuan). Contohnya adalah Takahashi-sensei, Tanaka-san, dan San-chan. Umumnya kita menggunakan nama keluarga (Tanaka Reina, Fujimoto Miki, dsb) kecuali kalau kita sudah kenal dekat orangnya.

Inilah contohnya (yang merah contoh salah):

あなたはいつ帰りますか (誤)
anata wa itsu kaerimasu ka (salah)
新垣さんはいつ帰りますか
niigaki-san wa itsu kaerimasu ka

Kapan anda (Niigaki-san) pulang?

……
Cara lain untuk mengacu lawan bicara adalah dengan hanya menyebut gelar atau jabatannya. Contohnya adalah sensei (guru) dan shachou (pemimpin perusahaan). Ini contohnya:

あなたはジャズが好きですか (誤)
anata wa jazu ga suki desu ka (salah)
先生はジャズが好きですか
sensei wa jazu ga suki desu ka

Apakah bapak (guru) suka Jazz?

……
Tidak memanggil “kamu” sama sekali
Tentu saja kalau konteksnya sudah jelas, kita bisa saja membuat kalimat benar tanpa menggunakan “kamu” sama sekali. Contohnya kalimat di atas akan menjadi seperti ini:

いつ帰りますか
itsu kaerimasu ka
Pulangnya kapan?

Perhatikan bahwa di bahasa Indonesia pun kita juga bisa membuat kalimat-kalimat tanpa “kamu”. Contoh bahasa Indonesia lainnya misalnya “Mau pergi ke mana?”, “Tinggalnya di mana?”, dan “Lagi baca apa?”. Jadi ini bukanlah konsep yang aneh.

Ini terutama berguna kalau kita bicara dengan orang yang tak dikenal misalnya, karena tentu kita belum tahu namanya. Ini beberapa contohnya:

すみません、あなたは橋本さんですか (誤)
sumimasen, anata wa hashimoto-san desu ka (salah)
すみません、橋本さんですか
sumimasen, hashimoto-san desu ka

Maaf, Pak Hashimoto bukan ya?

……

あたなの名前は何ですか (誤)
anata no namae wa nan desu ka (salah)
お名前は何ですか
onamae wa nan desu ka

Namanya siapa ya?

……
Karena kita mengacu pada “nama” lawan bicara, akan lebih sopan jika digunakan awalan o- (sehingga menjadi onamae) seperti pada contoh.

Kapan anata digunakan?
Kalau anata sebegitu tabunya, untuk apa ada kata ini? Tentu saja, terdapat kasus-kasus khusus di mana kita bisa menggunakannya.

anata digunakan misalnya di angket, formulir, atau iklan. Di kasus-kasus tersebut anata bisa digunakan karena kita tidak mungkin mengenal nama orangnya dan karena kita tidak bertatap muka dengan orangnya secara langsung.

あなたの本を出版します
anata no hon o shuppan shimasu
Kami akan menerbitkan bukumu!

……

Berikut adalah contoh dari form registrasi di Internet:

ぷっちょ会員登録が完了すると、あなたのメールに登録完了メールが送られています
puccho kaiin touroku ga kanryou suru to, anata no meeru ni touroku kanryou meeru ga okurarete imasu
Jika proses registrasi anggota Puccho telah selesai, email pemberitahuan (mengenai selesainya proses registrasi) akan dikirimkan ke alamat email kamu

……

anata juga bisa digunakan di lagu, karena pada lagu kita sebetulnya tidak berbicara langsung dengan orang yang dimaksud. Pada bagian-bagian yang menggunakan anata umumnya sang penyanyi sedang berbicara (berkisah) sendiri, atau sekedar menumpahkan perasaannya pada lagu.

あなたが好き [Kokuhaku no Funsui Hiroba: | ]
anata ga suki
Aku cinta kamu

……

そう、今すぐあなたに会いたいよ [Manopiano: | ]
sou, ima sugu anata ni aitai yo
Ya, aku ingin bertemu denganmu sekarang juga

……

Kalau kita berbicara langsung dengan orangnya, maka yang lebih alami adalah hanya “suki” dan “ima sugu aitai yo” atau menggunakan nama orangnya misalnya “ima sugu bima-kun ni aitai yo“.

Terakhir, di film-film kamu mungkin akan menemukan istri memanggil suaminya anata. Itu adalah sebutan sayang istri kepada suami walaupun hal tersebut kini terdengar cukup kuno. Artinya di sini bukan “kamu”, tapi lebih ke arah “sayangku” atau “suamiku sayang”.

Penutup

anata sepertinya banyak disalahgunakan oleh pemula karena pengaruh bahasa Inggris. Saat belajar bahasa Inggris, kita dibiasakan (terpaksa) untuk menggunakan kata “you”. Bayangkan saja kalimat seperti “Do you like Jazz” dan “I love you” yang mau tidak mau harus menggunakan “you”. Oleh karenanya, saat belajar bahasa Jepang yang juga merupakan bahasa asing para pemula cenderung terjebak untuk menggunakan anata.

Padahal seperti telah kita bahas, menggunakan anata kemungkinan besar akan terdengar aneh atau malah tidak sopan. Bahasa Jepang bukan bahasa Inggris, jadi kita harus tahu beda penggunaan kata-katanya. Oleh karenanya berhati-hatilah dan cobalah gunakan tips-tips di artikel ini untuk mengakali kalimatmu agar tidak menggunakan anata.

Agar tidak terlalu panjang, untuk saat ini pembahasannya akan kita akhiri. Namun topik anata ini masih akan kita lanjutkan lagi kapan-kapan. Kalau kamu termasuk orang yang terkena sindrom menggunakan anata kapanpun dan di manapun, semoga artikel ini berguna! Mata kondo!