Monthly Archives: February 2010

  • 0

Yomiuri Hatsugen Komachi: Forum Online Masalah Kehidupan Sehari-hari

Forum diskusi (掲示板, keijiban) adalah salah satu media menarik untuk bahan bacaan. Beda dari artikel atau karangan misalnya, poin utama dari forum adalah diskusi dan tukar pendapat para pesertanya.

Berbicara tentang forum online, pasti yang akan pertama kali terlintas di kepala adalah 2ch (ni channeru), forum terbesar di dunia yang melahirkan legenda Densha Otoko.

Sayangnya, bahasa yang digunakan di forum tersebut seringkali bukan bahasa normal. Slang internal 2ch sangatlah banyak, sehingga waktu kita akan terkuras untuk menyelidiki berbagai istilah yang mungkin sama sekali tidak digunakan di percakapan normal. Belum lagi frekuensi junk yang tinggi (misalnya postingan satu kata yang tidak bersubstansi).

Untuk alternatif bacaan yang mungkin lebih bisa dicerna, baru-baru ini saya menemukan Yomiuri Hatsugen Komachi yang dikelola koran Yomiuri Shinbun. Subforum pembaca yang ada berkisar masalah kehidupan sehari-hari, misalnya percintaan (男女, danjo = cowok cewek), human relationship (persahabatan dsb.) (人, hito = orang), pendidikan (学ぶ, manabu = belajar), dan pekerjaan (働く, hataraku = bekerja).

Walaupun cakupannya sepertinya terbatas, sebetulnya banyak sekali topik menarik yang muncul. Dari forum tersebut kamu bisa tahu masalah aktual orang Jepang modern, dan bagaimana masyarakat Jepang memandang segala sesuatu. Bahasa yang digunakan normal, dan tentunya pengetahuan yang didapat dari sini akan berguna saat kita ngobrol tentang Jepang atau dengan orang Jepang misalnya.

Sebagai contohnya adalah topik oyome-san ga saikin tsumetain desu (Menantuku akhir-akhir ini dingin). Di situ ada mertua yang curhat bahwa menantu perempuannya pada awalnya sangat akrab dengan dia. Baru-baru ini menantu tersebut melahirkan, sehingga mertua tersebut sangat bahagia dianugerahi cucu pertamanya. Berniat baik, mertua tersebut berusaha sebisa mungkin mengajari cara membesarkan anak dari pengalamannya selama ini. Ternyata menantunya lama-lama menjadi dingin, mulai dari telepon yang tidak diangkat sampai SMS yang dibalas telat dan singkat seperlunya.

Di situ, respons dan masukan orang lain bisa dibilang satu suara: Jangan ikut campur urusan membesarkan anak! Ada yang menulis bahwa pengalaman membesarkan anak di zaman dahulu banyak yang sudah tidak pas lagi di masa sekarang. Ada yang bilang pasti menantu tersebut juga sudah aktif mencari sendiri atau membaca berbagai info tentang hal ini, jadi kalau terlalu ikut campur maka akan terkesan sok tahu atau tidak percaya. Ada ibu dua anak yang berkomentar bahwa sikap seperti itulah yang membuat mertua reputasinya buruk dan dijauhi. Ada yang bilang ini bukan anak si mertua, jadi hargai cara membesarkan yang mereka pilih sendiri. Dari sini bisa dilihat bahwa sepertinya di masyarakat Jepang modern, seorang ibu sama sekali tidak ingin mertua ikut campur urusan membesarkan anak. (Di Indonesia bagaimana ya? Apa malah senang kalau mertua baik hati berbagi ilmu? Tolong komentarnya.)

Banyak judul topik yang membuat kita tertarik tahu isinya dan respons orang lain. Mulai dari Apa pendapat kalian tentang wanita yang menjadi ibu rumah tangga? sampai tentang seorang laki-laki murid SMU yang ingin menjadi pengasuh anak di playgroup namun masih ragu (apa orang tua takut kalau misalnya anak perempuannya diurus laki-laki?). Seringkali kita bisa tahu trend cara pandang melalui statistik survei dan sejenisnya, namun tentu saja membaca pendapat individual satu persatu juga hal yang sangat menarik.


  • 0

Japanese in Anime and Manga: Memperdalam Bahasa Jepang Lewat Media Populer

Bahasa Jepang adalah bahasa yang sangat berwarna. Terdapat berbagai cara untuk mengungkapkan hal yang pada dasarnya sama, dan ini dipengaruhi oleh faktor seperti hubungan antara pembicara, umur pembicara, dan latar belakang atau sifat pembicara.

Sebagai contoh, untuk meminta atau membuat orang lain agar makan, kita bisa menggunakan berbagai cara berikut dengan nuansa yang sangat berbeda (semuanya menggunakan kata dasar taberu yang berarti “makan”):

  • tabete kudasai: “Silahkan makan”. Ini cara membuat permintaan sopan. Aman untuk digunakan di segala situasi, misalnya mempersilahkan tamu makan.
  • tabete: Sama seperti di atas tapi terdengar lebih santai. Digunakan misalnya antar teman.
  • tabenasai: Permintaan yang cukup tegas namun sopan. Bisa digunakan misalnya oleh ibu kepada anaknya yang rewel tidak mau makan.
  • tabete itadakemasen ka?: Permintaan yang sangat sopan, dengan nuansa bahwa kita merendahkan diri. Seakan-akan mengatakan “Mungkin makanannya tidak enak, tapi akankah kamu berbaik hati memakannya?”
  • tabero!: “Makan!!!” Ini bentuk perintah kasar. Bayangkan kamu memaksa lawan bicaramu makan sambil menodongkan pistol.

Tentunya masih banyak cara lainnya, dan lingkup penggunaan contoh di atas tidaklah saklek. Sebagai contoh, “tabete” dan “tabenasai” bisa juga digunakan kepada tamu (masing-masing dengan kesan santai dan agak tegas dalam artian baik).

Di sini, media seperti anime, dorama, dan manga merupakan cara yang hebat untuk menemui beragam bentuk bahasa Jepang. Dengan berbagai setting dan tokoh yang berbeda, kamu akan terbiasa mendengar bermacam gaya bahasa dan perlahan-lahan mengerti kapan harus menggunakan yang mana. Sebagai orang asing, ini mungkin bisa jadi wahana pencarian jati diri juga: Dengan bahasa Jepang seperti apa aku ingin berbicara? “ore no hanashikata, monku aru?!?” (Lu ada masalah ama gaya bicara gue?!?)

“Arigatou gozansu“. Ha? Apa? (dari dorama Jin)

Tidak hanya variasi bahasa mulai dari cara bicara anak-anak sampai yakuza yang bisa ditemui di zaman modern, pada anime Samurai X kamu bisa menjumpai gaya bahasa samurai zaman Meiji, pada dorama Jin kamu bisa melihat bagaimana para Oiran zaman Edo menggunakan akhiran -arinsu, dan pada anime atau game Air kamu bisa mencicipi bahasa Jepang zaman Heian yang jauh lebih tua lagi.

“Ryuuya-dono mo tamesu ga yoi“. (Ayo cicip, Tuan Ryuuya) (dari anime Air)

Menyadari efektifnya media-media tersebut untuk membuka wawasan bahasa Jepang, Japan Foundation mengembangkan situs Japanese in Anime & Manga. Di situ, terdapat modul-modul interaktif untuk mempelajari bahasa-bahasa yang muncul di media-media tersebut. Sebagai contoh, di modul “Character expression” kamu bisa mendengar dan membandingkan bagaimana 8 karakter berbeda mengungkapkan hal untuk situasi yang sama. Tentu fokusnya lebih ke arah ragam bahasa modern, jadi jangan harap bahasa zaman Heian muncul di situs tersebut.

Terdapat mode kanji, kana, dan romaji untuk tulisan Jepangnya yang bisa diubah lewat tombol kanan atas. Setelah mempelajarinya, terdapat juga mode kuis untuk menguji pemahaman kalian.

Untuk modul “Love Word Quiz”, kalian menebak arti dari kata-kata bahasa Jepang. Selain itu, kalian juga bisa melihat contoh penggunaan kata tersebut di manga (dengan terjemahan Inggrisnya) dan juga melihat halaman manga aslinya!