Monthly Archives: June 2008

  • 0

Kanjiku: Batu di Sungai (石 dan 川)

Kali ini kita akan belajar lagi dua kanji yang mudah. Kedua kanji tersebut diajarkan di kelas 1 SD dan berhubungan dengan alam.

Batu: 石 (ishi)

Bahasa Jepangnya batu adalah ishi. Untuk mengingat kata tersebut, bayangkan seorang pesilat yang disuruh berlatih oleh gurunya mendaki gunung dan melewati lembah. Agar latihannya berat, dia harus membawa ransel ishi batu (isi batu):

Nemonik \"ishi\" ke \"batu\" - bawa ransel ishi batu (isi batu)

Kanjinya adalah 石 dan cara mengingat bentuknya sangat gampang. Kamu tahu putri duyung kan?

 

Sungai: 川 (kawa)

Bahasa Jepang sungai adalah kawa. Sebagai nemonik, bayangkan lahar yang mengalir dari kawah sehingga menghasilkan sungai lahar

Penggunaan

Kedua kanji tersebut cukup sering muncul di nama. Contohnya adalah 石川梨華 (Ishikawa Rika, penyanyi), 石田芳夫 (Ishida Yoshio, pemain igo), 石村舞波 (Ishimura Maiha, penyanyi), dan 川崎 (Kawasaki, produsen motor).

Tentunya kedua kanji tersebut bisa juga digunakan di kalimat, misalnya:

川の中に石がたくさんある。
kawa no naka ni ishi ga takusan aru
Ada banyak batu di dalam sungai.

中 (naka): dalam, tengah
たくさん (takusan): banyak
ある (aru): ada

Perhatikan bahwa 中 (naka) selain berarti “tengah” juga bisa berarti “dalam”. Ini contoh kalimat lain:

川に石を投げる
kawa ni ishi o nageru
melempar batu ke sungai

投げる (nageru): melempar

Seperti biasanya, jangan lupa untuk mencoba menggambar kanji-kanji tersebut!


  • 0

Tutorial Watarasebashi #10 – Pengelompokan kana

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Setelah meninjau huruf-huruf Jepang, kita sekarang akan mulai membahas lagu Watarasebashi dari awal. Romaji akan disertakan sepanjang tutorial, namun ingat bahwa itu ada agar mereka yang masih belajar kana bisa langsung mengikuti artikel-artikelnya.

Pembahasan akan dimulai dari judulnya yaitu “Watarasebashi” yang artinya Jembatan Watarase. Kata tersebut dibentuk dari watarase yang merupakan suatu nama dan hashi yang artinya jembatan. Pertanyaannya, kenapa jadinya watarasebashi dan bukan watarasehashi?

watarasebashi merupakan kata gabungan. Seringkali, dalam pembentukan kata gabungan terjadi perubahan suara pada kata keduanya, dalam hal ini hashi menjadi bashi. Di sini kita akan mempelajari perubahan tersebut, yang sebetulnya lebih ke arah studi fonologi. Untuk memahami aturannya, kita perlu kembali meninjau aspek teknis dari kana.

Pengelompokan kana (hiragana dan katakana)

Di bahasa Jepang, huruf-huruf kana dasar dikelompokkan menjadi baris-baris tertentu, yang jika disusun akan membentuk tabel. Pengelompokan ini sangat vital untuk memahami berbagai aturan tata bahasa dan harus kamu kuasai. Untuk membentuk kata sopan dari kata dasarnya misalnya, kamu perlu tahu pengelompokan ini.

Baris yang pertama adalah baris a:


a

i

u

e

o

Urutan vokalnya adalah a-i-u-e-o, bukan a-e-i-o-u seperti pada alfabet Latin.

Berikutnya adalah baris k:


ka

ki

ku

ke

ko

Baris tersebut sangat mudah dimengerti sebab hanya merupakan kombinasi konsonan k dengan vokal a-i-u-e-o.

Selanjutnya adalah baris s, dan di sini mulai terdapat ketidakberaturan:


sa

shi

su

se

so

Bisa dilihat bahwa huruf baris s vokal i bukanlah “si” seperti yang diharapkan, namun “shi”. Suara “si” tidak ada di kata-kata bahasa Jepang asli. Untuk mengingat perkecualian ini, ingatlah bahwa di cerita Doraemon terdapat tokoh yang bernama “shizuka” dan bukan “sizuka”.

Baris selanjutnya yaitu baris t malah memiliki 2 perkecualian:


ta

chi

tsu

te

to

Baris t vokal i bukanlah “ti” namun “chi”. Begitu juga vokal “u” bukanlah “tu” tapi “tsu”. “ti” dan “tu” tidak ada di kata-kata bahasa Jepang asli. Ingatlah dengan tokoh “chibiusa” pada cerita Sailor Moon (bukan “tibiusa”) dan “tsubasa” pada cerita Kapten Tsubasa (bukan “tubasa”).

Baris n suaranya teratur:


na

ni

nu

ne

no

Namun berikutnya baris h memiliki perkecualian:


ha

hi

fu

he

ho

Bagi orang Jepang, gabungan h dengan u adalah “fu”, bukan “hu”. Makannya ada gunung yang bernama “fuji” bukannya “huji”.

Baris m juga teratur:


ma

mi

mu

me

mo

Berikutnya adalah baris y yang teratur namun hanya digabung dengan vokal a-u-o:


ya

yu

yo

Baris selanjutnya adalah baris r yang juga teratur:


ra

ri

ru

re

ro

Baris berikutnya yaitu baris w hanya memiliki vokal a dan o:


wa

wo

Vokal mati satu-satunya tidak digolongkan baris manapun:


n

Dengan begitu, urutan baris-barisnya adalah a-k-s-t-n-h-m-y-r-w. Mengetahui urutannya akan berguna untuk melakukan pencarian pada daftar yang diurutkan berdasarkan kana. Contohnya adalah pada daftar penyanyi lagu anime Wikipedia bahasa Jepang. Kalau kamu ingin menghafalnya agar ingat suara-suara yang ada di bahasa Jepang, ini nemoniknya:

Anak Kancil Sedang Tidur Nyenyak Habis Makan Yakiniku Rasa Wortel

Yang juga penting kamu hafalkan adalah suara-suara perkecualian yang ada di baris s (shi), t (chi, tsu), dan h (fu). Nemonik yang bisa kamu pakai adalah “tsubasa tanding di gunung fuji, disoraki shizuka dan chibiusa”. Kalau kamu tidak kenal tokoh-tokoh tersebut, kamu bisa buat nemonik lain sendiri.

Penutup

Setelah pembahasan panjang tersebut, sayangnya ilmu kita belum cukup untuk membahas perubahan hashi ke bashi! Mungkin di episode berikutnya.

Tapi, dengan ilmu yang baru kita pelajari, kita bisa bermain sedikit tebak-tebakan…

Pertama, ingat bahwa suara “si”, “ti”, “tu”, dan “hu” tidak ada di bahasa Jepang. Bagi orang Jepang, s yang digabung i ya bunyinya “shi” bukan “si”. Nah, karenanya, jika ada orang Jepang yang menulis romanisasi si, sebetulnya yang mereka maksud adalah kana し yang suaranya “shi”! Begitu juga untuk suara perkecualian lainnya.

Dengan mengingat poin tersebut, sekarang coba jawab pertanyaan berikut.

1) Ada orang Jepang yang mengupload gambar dengan nama berkas mitisige_L2.jpg. Sebetulnya, bagaimana cara membaca mitisige?

Jawaban: Cara membacanya adalah “michishige”. Ingat, di bahasa Jepang tidak ada suara “ti” sehingga yang dimaksud orang tersebut saat menulis ti adalah suara “chi” (ち). Begitu juga dengan si yang sebetulnya dibaca “shi” (し).

2) Orang yang sama mengupload berkas tuji_L8.jpg. Bagaimana sebetulnya cara membaca tuji?

Jawaban: Cara membacanya adalah “tsuji”. Di bahasa Jepang, gabungan t dan u menghasilkan つ yang bunyinya “tsu” bukan “tu”.

3) Terakhir, ada orang Jepang yang membuat halaman dengan nama hujimoto04.htm. Bagaimana cara membaca hujimoto yang benar?

Jawaban: Cara membacanya adalah “fujimoto”. Kalau orang Jepang menulis hu, yang mereka maksud adalah suara “fu” (ふ).

Pelajaran fonologi kita ini cukup berguna kan? Sampai jumpa di episode berikutnya!

Lampiran

Inilah daftar suara dasar kana yang disusun dalam tabel:

Vokal
a i u e o
Baris a
a

i

u

e

o
Baris k
ka

ki

ku

ke

ko
Baris s
sa

shi

su

se

so
Baris t
ta

chi

tsu

te

to
Baris n
na

ni

nu

ne

no
Baris h
ha

hi

fu

he

ho
Baris m
ma

mi

mu

me

mo
Baris y
ya

yu

yo
Baris r
ra

ri

ru

re

ro
Baris w
wa

wo

n

  • 0

Tutorial Watarasebashi #09 – Penggunaan Masing-masing Jenis Huruf Jepang

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di Indonesia huruf besar dan kecil memiliki fungsinya masing-masing. Contohnya, huruf besar digunakan untuk mengawali kalimat, mengawali nama orang, dan untuk singkatan. Sekarang kita akan mempelajari penggunaan dari masing-masing huruf yang ada di bahasa Jepang.

Penggunaan kanji

Secara umum, kalau suatu kata memiliki kanji maka dia akan ditulis menggunakan kanjinya. Pada lagu Watarasebashi, contohnya adalah 私 (watashi, saya), 電話 (denwa, telepon), dan 見る (miru, melihat).

Walaupun begitu, ada juga kata-kata tertentu yang secara historis memiliki kanji tapi tidak digunakan di bahasa Jepang modern. Contohnya, “suru” (melakukan) sebetulnya memiliki penulisan kanji 為る tapi sekarang penulisan tersebut sama sekali tidak dipakai. Saat ini “suru” selalu ditulis sepenuhnya dengan hiragana yaitu する.

Beberapa kata berada di daerah abu-abu. Kadang-kadang ada yang menulisnya dengan kanji, kadang-kadang ada pula yang memilih menggunakan hiragana. Contohnya, di lagu Watarasebasi digunakan kanji untuk kata “dekiru” (bisa) yaitu 出来る, tapi yang menggunakan hiragana (できる) juga banyak. Di lain pihak, untuk kata “kirei” (cantik, indah) penulis Watarasebashi menggunakan hiragana (きれい), walaupun kanjinya (綺麗) juga sering dipakai. Pada akhirnya semuanya dikembalikan ke penulis.

Penggunaan hiragana

Kata-kata yang tidak memiliki kanji umumnya ditulis dengan hiragana dan bukan katakana. Contohnya adalah はい (hai) yang artinya “iya”. Ini termasuk partikel-partikel dan akhiran kalimat, misalnya partikel の (no) yang digunakan untuk menyatakan kepemilikan. Seperti telah kita pelajari sebelumnya, hiragana juga digunakan untuk okurigana.

Penggunaan katakana

Katakana terutama digunakan untuk kata-kata serapan. Contohnya, kata bahasa Inggris “computer” diserap menjadi コンピュータ (konpyuuta) yang ditulis dengan katakana. Sebagai contoh lain, アニメ (anime) yang ditulis dengan katakana adalah singkatan dari アニメーション (animeeshon) yang merupakan kata serapan dari “animation”.

Nama orang dan tempat luar negeri juga ditulis dengan katakana, walaupun aslinya adalah huruf latin. Contohnya, “Susilo Bambang Yudhoyono” di media Jepang ditulis dengan katakana スシロ・バンバン・ユドヨノ (sushiro banban yudoyono). Ini bisa dimaklumi kalau kita sendiri sadar bahwa nama orang Jepang di media Indonesia juga tidak ditulis dengan huruf Jepang sebagaimana aslinya.

Katakana juga sering digunakan untuk nama binatang dan tumbuhan yang sebetulnya memiliki kanji. Contohnya adalah ヒトデ (hitode, bintang laut) dan ラン (ran, anggrek) yang ditulis dengan katakana. Ini karena banyak nama makhluk yang kanjinya langka sehingga jarang orang yang bisa membacanya.

Terakhir, kata-kata yang umumnya ditulis dengan kanji atau hiragana bisa juga dituliskan dengan katakana. Seringkali yang diinginkan di sini adalah penekanan tambahan, mirip seperti penggunaan huruf besar pada bahasa Indonesia untuk menarik perhatian. Bandingkan “gratis” dengan “GRATIS”. Ini sama seperti ただ (hiragana) vs. タダ (katakana) yang keduanya dibaca “tada” (gratis).

Kata-kata yang mengimitasi suara atau keadaan

Di bahasa Jepang, ada kata-kata tertentu yang berusaha meniru suara (giongo). Contohnya adalah “wan wan” yang meniru suara anjing menggonggong (guk guk) dan “goro goro” yang meniru suara benda besar berguling jatuh. Terdapat juga kata-kata sejenis yang sebetulnya menggambarkan keadaan namun dibuat seolah-olah keadaan tersebut bersuara (gitaigo). Contohnya adalah “shiin” yang menggambarkan keheningan, “kira kira” yang menggambarkan kerlap-kerlip cahaya, dan “potsun” yang menggambarkan kesendirian. Kata-kata yang pada intinya adalah efek suara tersebut banyak sekali dipakai di bahasa Jepang.

Nah, kata-kata tersebut bisa ditulis dengan hiragana maupun katakana. Pada lagu Watarasebashi misalnya, “potsun” yang menggambarkan kesendirian ditulis dengan katakana ポツン. Namun ada juga yang menuliskannya dengan hiragana ぽつん. Sekali lagi di sini bahasa Jepang memberikan kebebasan pada penulisnya untuk berekspresi.

Penutup

Kita telah meninjau penggunaan ketiga jenis huruf pada bahasa Jepang. Semoga dengan ini kamu punya gambaran tentang kapan huruf-huruf tersebut digunakan. Inilah rangkumannya:

  • Kata-kata yang memiliki kanji umumnya ditulis dengan kanji. Contohnya adalah 私 (watashi, saya).
  • Beberapa kata sebetulnya memiliki kanji namun di bahasa Jepang modern tidak dipakai sama sekali, contohnya する (suru, melakukan). Beberapa kata sering ditulis baik dengan kanji maupun hiragana, contohnya 出来る/できる (dekiru, bisa).
  • Kata-kata yang tidak punya kanji umumnya ditulis dengan hiragana dan bukan katakana. Contohnya adalah はい (hai, iya). Hiragana juga dipakai di okurigana seperti る (ru) pada kata 見る (miru, melihat).
  • Katakana digunakan untuk kata serapan, nama dari luar negeri, nama makhluk, dan untuk penekanan. Contohnya adalah untuk nama ニューヨーク (nyuuyooku, New York).
  • Kata-kata yang melukiskan suara (nyata maupun imajinatif) bisa ditulis dengan hiragana maupun katakana. Contohnya adalah きらきら/キラキラ (kira kira, efek suara yang menggambarkan kerlap-kerlip cahaya).

Berikutnya, kita akan membahas pembentukan kata “Watarasebashi”. Sampai jumpa!

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul didaftar di sini.

私 (watashi): saya
電話 (denwa): telepon
見る (miru): melihat
する (suru): melakukan
出来る (dekiru): bisa
綺麗 (kirei): cantik, indah
はい (hai): iya
コンピュータ (konpyuuta): komputer (computer)
アニメ (anime): film kartun
ヒトデ (hitode): bintang laut
ラン (ran): anggrek
ただ (tada): gratis
擬音語 (giongo): onomatope, kata-kata yang melukiskan suara
擬態語 (gitaigo): mimesis, efek suara yang melukiskan keadaan (yang sebetulnya tak bersuara)
わんわん (wan wan): suara anjing (guk guk)
ごろごろ (goro goro): suara benda besar berguling jatuh
シーン (shiin): efek suara keheningan
きらきら (kira kira): efek suara kerlap-kerlip cahaya
ポツン (potsun): efek suara seorang diri


  • 0

Tutorial Watarasebashi #08 – Katakana

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Setelah mempelajari hiragana dan kanji, sekarang kita akan mempelajari jenis huruf terakhir yang unik bagi bahasa Jepang yaitu katakana. Terakhir kita akan mempelajari penggunaan masing-masing jenis huruf yang ada.

Katakana

Katakana pada intinya sama dengan hiragana, yaitu melambangkan suara. Katakana digunakan terutama untuk kata-kata serapan, seperti yang akan dicontohkan nanti. Semua huruf hiragana pasti ada padanan katakananya. Sebagai contoh, “ma” pada hiragana adalah ま dan pada katakana adalah マ. “erika” jika ditulis dengan hiragana adalah えりか, dan jika ditulis dengan katakana menjadi エリカ. Pembahasan mengenai suara pada hiragana juga berlaku pada katakana.

Namun di katakana terdapat tanda khusus yaitu tanda baca panjang ー. Jika diletakkan setelah katakana lain, maka suara vokal pada katakana sebelumnya akan diperpanjang. Contohnya, モ dibaca “mo” sehingga モー dibaca “moo”. Penggunaannya pada kata misalnya スカート (sukaato, skirt/rok) dan レボリューション (reboryuushon, revolution/revolusi).

Di bahasa Jepang memang terdapat kata-kata dengan vokal panjang, dan kita harus mengucapkannya dengan benar. Jika tidak, bisa-bisa artinya berubah menjadi kata lain. Contohnya adalah “shuujin” (tahanan) dengan “shujin” (suami), dan “obaasan” (nenek) dengan “obasan” (tante). Pada hiragana, vokal panjang ini tidak ditulis menggunakan tanda ー namun dengan kombinasi huruf-huruf tertentu. Aturannya akan kita bahas nanti saat bertemu penggunaannya di lagu Watarasebashi.

Di katakana juga terdapat simbol pembatas kata yaitu ・, yang fungsinya mirip dengan spasi pada bahasa Indonesia. Ini bisa digunakan misalnya pada ニュー・ヨーク (nyuu yooku) yang artinya “New York” untuk menunjukkan batas antara “New” dengan “York”. Namun penggunaannya opsional, sehingga “New York” bisa juga ditulis sebagai ニューヨーク (nyuuyooku) tanpa pembatas kata.

Selain hal-hal tersebut, cara kerja katakana bisa dibilang sama dengan hiragana. Oleh karenanya kita tidak akan membahas sisi teknisnya lebih lanjut. Pelajarilah cara membaca dan menulis hiragana lebih dulu karena dia lebih banyak muncul, lalu setelahnya pelajarilah katakana untuk melengkapi kemampuan membaca kamu.

Penutup

Kita telah mengenal tiga huruf yang unik bagi bahasa Jepang yaitu hiragana, katakana, dan kanji. Cara kerja katakana pada dasarnya sama dengan hiragana, yaitu melambangkan suara. Kita juga melihat bahwa di bahasa Jepang terdapat vokal panjang yang penting untuk diucapkan dengan benar.

Berikutnya, kita akan membahas cukup dalam penggunaan dari masing-masing jenis huruf tersebut. Sampai jumpa!

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul didaftar di sini.

スカート (sukaato): rok (skirt)
レボリューション (reboryuushon): revolusi (skirt)
囚人 (shuujin): tahanan
主人 (shujin): suami
お婆さん (obaasan): nenek
伯母さん (obasan): tante (kakak dari ayah/ibu)
叔母さん (obasan): tante (adik dari ayah/ibu)
ニューヨーク (nyuuyooku): New York


  • 0

Tutorial Watarasebashi #07 – Okurigana dan Tips Belajar Kanji

Category : Watarasebashi

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode terakhir dan sebelumnya, semua kata-kata yang muncul bisa ditulis sepenuhnya menggunakan kanji. Namun sebetulnya ada juga kata-kata yang penulisan kanjinya harus diakhiri hiragana! Hiragana yang menguntit tersebut dinamakan okurigana, yang pada gambar di atas ditandai dengan warna ungu.

Okurigana

Di lagu Watarasebashi, okurigana misalnya muncul pada kata “miru” yang artinya “melihat”. Penulisannya menggunakan kanji adalah 見る, yaitu kanji yang artinya “melihat” (見) ditambah dengan hiragana “ru” (る). Hiragana る tersebut adalah okurigana.

Okurigana ada sebab di bahasa Jepang kata-kata tertentu bisa mengalami konjugasi (perubahan bentuk). “miru” misalnya, bisa berubah bentuk menjadi “minai” (bentuk negatif, “tidak melihat”), “mimasu” (bentuk sopan), dan banyak bentuk lainnya yang akan kita pelajari belakangan. Konjugasi-konjugasi tersebut merubah akhir katanya, dan di sinilah okurigana berperan. Contohnya, “minai” ditulis 見ない dan “mimasu” ditulis 見ます. Bisa dilihat bahwa kanjinya tetap dan hanya hiragana belakangnya yang berubah.

Contoh lain penggunaan okurigana di lagu tersebut adalah “hiroi” yang artinya “luas”, ditulis sebagai 広い. Kanji 広 artinya “luas”, dan akhirannya adalah hiragana “i” (い). Kalau misalnya dia berubah ke bentuk negatifnya, “hirokunai” (tidak luas), maka kanjinya tetap dan hanya okurigananya yang berubah: 広くない.

Kita juga telah mempelajari bahwa satu kanji bisa digunakan untuk banyak kata. Nah, seringkali okurigana digunakan untuk membedakan kata yang dimaksud. Sebagai contoh, pada lagu Watarasebashi terdapat kata “kurasu” yang artinya “tinggal (di suatu tempat)” dan “kureru” yang artinya “menjadi gelap”. Entah apa hubungannya, tapi kedua kata tersebut menggunakan kanji yang sama yaitu 暮. Hanya saja, “kurasu” ditulis 暮らす dengan okurigana “rasu”, dan “kureru” ditulis 暮れる dengan okurigana “reru”. Dengan okurigana tersebut, tanpa konteks lain pun kita bisa tahu kata mana yang dimaksud.

Mempelajari kanji

Mungkin studi kanji awalnya akan terlihat sangat berat. Jumlahnya banyak, satu kanji cara membacanya bisa bermacam-macam, dan satu kanji bisa memiliki banyak arti. Tapi jangan khawatir. Seiring kamu belajar, kamu akan menemukan banyak kemudahan. Jumlah kanji memang banyak, tapi sebagian besar tersusun atas bentuk-bentuk sederhana yang muncul berulang-ulang. Kalau kamu sudah akrab dengan bentuk-bentuk dasarnya, belajar kanji-kanji baru menjadi sangat mudah. Mengenai bacaan, nanti kamu akan bertemu berbagai aturan umum yang memudahkan kamu membaca kata-kata baru dengan benar. Ya, dalam kesulitan juga ada kemudahan!

Kalau kamu memang berniat untuk menguasai bahasa Jepang, saran saya adalah mulai belajar kanji sedini mungkin. Lakukan dengan sedikit-sedikit namun rutin sehingga tidak terasa berat.

Kamu mungkin bertanya-tanya, kanji-kanji apa yang sebaiknya dipelajari lebih dulu? Menurut saya, daripada mempelajari daftar kanji buatan, cara yang lebih efektif adalah mempelajari kanji dari kata-kata yang kamu temukan. Dengan memiliki konteks penggunaannya, kanji tersebut akan lebih mudah menempel di ingatan. Jadi saran saya adalah banyak menikmati karya bahasa Jepang misalnya lagu, cerita, film, maupun berita, dan mempelajari kanji-kanji yang muncul di situ.

Dalam mempelajari kanji, ingatlah bahwa kamu harus menulis dengan cara yang benar. Untuk tahu cara menulis suatu kanji, kamu bisa gunakan WWWJDIC. Tulislah (atau paste) kanjinya lalu lakukan pencarian. Dari hasil pencarian, klik pranala yang bertulisakan “SODA” (stroke order animation) untuk mendapatkan animasi cara menggambarnya (kamu mulai menggambar dari titik yang diwarnai merah). Lihat contoh SODA.

Yumeko juga memiliki segmen kanjiku yang secara khusus membahas tentang kanji tertentu. Kamu tinggal melakukan pencarian di situs ini terhadap kanji yang ingin kamu pelajari.

Penutup

Banyak yang bisa dibicarakan tentang cara kerja kanji, namun yang dibahas di sini hanyalah kulitnya. Untuk bacaan tambahan, kamu bisa membaca tentang kanji di tutorial Tae Kim.

Inilah rangkuman episode kali ini dan sebelumnya:

  • Bacaan kanji secara umum dibagi menjadi bacaan kun (Jepang) dan bacaan on (China). Contohnya 山 (gunung) memiliki bacaan kun “yama” dan bacaan on “san”.
  • Beberapa kata tertentu memerlukan okurigana untuk penulisan kanjinya. Contohnya adalah “miru” (melihat) yang ditulis 見る dengan hiragana “ru” sebagai okurigana.
  • Belajar kanji sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Pelajari kanji-kanji yang ditemui di dunia nyata, sedikit demi sedikit namun rutin.

Di episode selanjutnya, kita akan membahas jenis huruf terakhir di bahasa Jepang yaitu katakana. Sampai jumpa…

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini. Semuanya ada di lagu Watarasebashi.

見る (miru): melihat
広い (hiroi): luas
暮らす (kurasu): tinggal (di suatu tempat)
暮れる (kureru): menjadi gelap (hari)
山 (yama): gunung

Di bawah juga didaftar seluruh aksara yang kita gunakan sebagai contoh selama membahas kanji. Kamu bisa mulai belajar menulis dari kanji-kanji berikut. Klik masing-masing kanji untuk melihat cara menggambarnya.

山 (gunung)
夕 (senja)
士 (pria)
日 (matahari)
手 (tangan)
今 (sekarang)
広 (luas)
北 (utara)
空 (langit, kosong)
見 (lihat)
街 (kota)
頃 (waktu)
誰 (siapa)
富 (kaya)
暮 (tinggal, jadi gelap)
馬 (kuda)
鹿 (rusa)


  • 0

Tutorial Watarasebashi #06 – Bacaan kun dan on untuk Kanji

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode sebelumnya, kita telah melihat bahwa satu kanji bisa memiliki lebih dari satu arti, dan karenanya lebih dari satu cara membaca. Contohnya, 空 bisa dibaca “sora” yang artinya “langit” dan bisa juga “kara” yang artinya “kosong”. Namun banyak juga kanji yang artinya hanya satu, tapi cara membacanya lebih dari satu! Kok bisa?

Bacaan kun dan on

Bahasa Jepang pada awalnya tidak punya sistem menulis, dan kanji sendiri datangnya dari China. Ini alasan utama kenapa satu kanji bisa punya banyak bacaan bahkan untuk arti yang sama.

Sebagai contoh, kita akan melihat kanji 山 (gunung) yang ada di lagu Watarasebashi. Orang Jepang dari dulu sudah mengenal konsep “gunung” sehingga punya kata untuk hal tersebut yaitu “yama”. Nah, saat mereka mengenal aksara kanjinya dari China, maka kanji tersebut diberi bacaan sesuai kata Jepangnya. Dengan kata lain, 山 diberi bacaan “yama”. Ini disebut bacaan kun atau bacaan Jepangnya. Pada contoh 空 (langit/kosong) sebelumnya, “sora” dan “kara” sama-sama merupakan bacaan kun.

Tapi karena kanji berasal dari China, maka pasti orang China juga sudah punya cara membacanya sendiri! Dari situlah kenapa suatu kanji bisa punya banyak bacaan. Sebagai contoh, untuk kanji gunung 山 tadi bacaan dari Chinanya adalah “san”. Ini disebut bacaan on.

Untuk kasus 山 tadi, jika berdiri sendiri maka dia dibaca “yama”. Bacaan “san” dipakai pada kata-kata tertentu misalnya 富士山 (Gunung Fuji) yang dibaca “fuji-san”. Dalam keduanya, mereka sama-sama berarti “gunung” tapi dibaca berbeda.

(Mungkin kamu pernah mendengar bahwa nama lain Gunung Fuji adalah “Fujiyama”. Itu adalah cara membaca yang salah dari 富士山. Orang Jepang sendiri tidak pernah membacanya sebagai “Fuji-yama”, selalu “Fuji-san”. Entah siapa yang menyebarkan cara membaca salah tersebut.)

Kalau ingin analogi kasarnya di bahasa Indonesia, huruf “e” juga memiliki dua cara membaca! “e” pada “enak” dibaca beda dengan “e” pada “enam”. Kanji juga seperti itu, di kata-kata tertentu yang dipakai adalah bacaan kun-nya, dan di kata-kata lain yang dipakai adalah bacaan on-nya.

Ada nemonik gampang untuk mengingat istilah kun dan on tersebut: Kuntilanak adalah hantu dalam negeri (Indonesia), dan karenanya bacaan kun adalah bacaan yang asalnya dari dalam negeri (Jepang). Di lain pihak, onta adalah binatang luar negeri (bagi Indonesia), dan karenanya bacaan on adalah bacaan yang berasal dari luar (dalam hal ini China). kun -> dalam negeri -> Jepang; on -> luar negeri -> China.

Penutup

Pada gambar di awal tulisan ini, bacaan kun yang muncul ditandai kuning dan bacaan on yang muncul ditandai biru muda. Itulah dua jenis bacaan kanji yang utama, namun saat kamu belajar kanji jangan kaget kalau nanti menemui beberapa jenis bacaan perkecualian. Contohnya adalah bacaan khusus yang hanya muncul pada nama.

Di episode berikutnya, kita akan mengakhiri tinjauan kanji kita dengan membicarakan okurigana. Sampai jumpa!

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

空 (sora): langit
空 (kara): kosong
山 (yama): gunung
富士山 (fujisan): Gunung Fuji


  • 0

Tutorial Watarasebashi #05 – Mengenal Kanji

Tags :

Category : Watarasebashi

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode lalu kita telah belajar bahwa hiragana melambangkan suara. Sekarang kita akan mengenal jenis huruf lainnya yaitu kanji, yang pada foto atas ditandai dengan warna hijau.

Yang membuat kanji unik adalah suatu kanji pasti terkait dengan arti tertentu. Contohnya, di lagu Watarasebashi terdapat kanji 日 (hi) yang berarti “matahari”, 街 (machi) yang berarti “kota”, dan 空 (sora) yang berarti langit. Kanji tidak terbatas pada benda fisik, tapi bisa juga menyatakan konsep abstrak. Dari lagu kita, contoh kata-kata abstraknya adalah 今 (ima) yang berarti “sekarang”, 頃 (koro) yang berarti “waktu”, dan 北 (kita) yang berarti “utara”.

Tentunya kamu pasti berpikir, di dunia ini kan ada banyak benda! Dan belum lagi, konsep-konsep abstrak hasil pemikiran manusia juga banyak! Ya, itu betul sekali, dan karenanya terdapat banyak kanji.

Jumlah kanji yang ada secara historis mencapai puluhan ribu, namun yang dipakai di zaman modern tidak sebanyak itu. Untuk kurikulum sekolah, pemerintah Jepang sendiri hanya mengajarkan 1.945 kanji yang dianggap paling umum. Tapi pada kenyataannya banyak kanji-kanji di luar daftar tersebut yang juga sering digunakan. Contohnya, pada Watarasebashi terdapat kanji 誰 (dare, siapa) yang tidak masuk kurikulum. Dengan mengetahui sekitar 2.000 kanji, kamu sudah bisa membaca banyak hal. Namun untuk benar-benar menjadi melek huruf dan terpelajar, bisa melahap materi berbagai bidang mulai dari novel sampai bacaan kedokteran, kamu akan perlu 3.000 sampai 3.500 kanji.

Kedengarannya memang mengerikan, tapi melihat fakta bahwa orang-orang di Jepang sana bisa membaca, maka kamu juga pasti bisa. Kuncinya adalah memulai sedikit-dikit sehingga tidak terasa berat dan banyak latihan agar mahir. Di Yumeko, secara rutin akan ada artikel yang khusus membahas kanji dan kamu bisa ikut belajar dari situ.

Cara kerja kanji tidak sesederhana contoh-contoh yang telah diberikan. Jadi, jangan berpikir bahwa kamu cukup menghafal bahwa 空 bunyinya “sora” dan artinya “langit”. Ini karena satu kanji bisa memiliki banyak arti, banyak bacaan, dan juga perilaku lain yang akan kita tinjau di sini.

Kanjinya satu, artinya banyak

Satu kanji bisa mengacu pada banyak arti. Sebagai contoh, 空 selain berarti “langit” juga bisa berarti “kosong”. Dalam hal ini, 空 dibaca “kara” jika arti yang dimaksudkan adalah “kosong”.

Cara tahu arti yang dimaksud penulis tentu saja dari konteks kalimatnya. Sebagai contoh, jika ada kalimat “Tas saya 空.” maka sudah jelas dia berarti “kosong” dan pada kalimat “Awan tebal menutupi 空.” maka jelas bahwa yang dimaksud “langit”. Cukup mudah kan?

Untungnya tidak semua kanji artinya banyak. Kalaupun artinya lebih dari satu, biasanya mereka berhubungan. Konsep “langit” dengan “kosong” tadi, cukup berhubungan kan?

Gabungan kanji

Dua buah kanji atau lebih bisa digabung untuk membentuk kata baru. Sebagai contoh, ilmu bela diri “karate” di bahasa Jepang ditulis sebagai 空手. 空 yang dibaca “kara” artinya “kosong” sebagaimana tadi telah kita pelajari, dan 手 yang dibaca “te” artinya “tangan”. Tangan kosong!

Sebagai contoh lain, 夕 dibaca “yuu” dan artinya “senja”. 日 dibaca “hi” dan artinya “matahari”. 夕日 dibaca “yuuhi” dan artinya “matahari senja”! (ada di Watarasebashi)

Seringkali pembentukan kata tersebut sangatlah masuk akal. Beberapa malah memiliki cerita yang menarik di baliknya. Sebagai contoh, di bahasa Jepang “baka” artinya “bodoh” dan penulisan kanjinya adalah 馬鹿. Kanji pertama “ba” berarti “kuda” dan kanji kedua “ka” berarti “rusa”. Katanya, dulu ada orang bodoh yang menyangka seekor rusa sebagai kuda. Begitulah cerita awal mula kata “baka”.

Penutup

Di sini kamu sudah mengenal beberapa sifat kanji yaitu:

  • Suatu kanji memiliki satu atau lebih arti. Contohnya 手 hanya berarti “tangan” namun 空 bisa berarti “langit” maupun “kosong”.
  • Suatu kanji bisa memiliki lebih dari satu cara baca. Contohnya 空 bisa dibaca “sora” (langit) maupun “kara” (kosong).
  • Kanji-kanji bisa digabung membentuk kata baru. Contohnya 空手 (karate) yang merupakan gabungan 2 kanji.

Pembicaraan kita tentang kanji masih belum selesai, namun akan dilanjutkan di episode berikutnya karena tulisan ini sudah cukup panjang. Sampai jumpa!

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini. Sebagian besar dari kata berikut ada di lagu Watarasebashi.

日 (hi): matahari
街 (machi): kota
空 (sora): langit
空 (kara): kosong
今 (ima): sekarang
頃 (koro): waktu
北 (kita): utara
誰 (dare): siapa
手 (te): tangan
空手 (karate): karate (suatu ilmu bela diri)
夕 (yuu): senja
夕日 (yuuhi): matahari senja
馬鹿 (baka): bodoh


  • 0

Rikaichan: Add-on Kamus Bahasa Jepang dan Kamus Kanji Untuk Firefox

Semua orang menggunakannya! Sebagai pelajar bahasa Jepang, program yang wajib kamu punya untuk menjelajahi web adalah kombinasi browser Mozilla Firefox ditambah add-on Rikaichan. Rikaichan berfungsi sebagai kamus bahasa Jepang yang bekerja menggunakan popup, jadi saat membaca halaman suatu situs kamu tidak perlu bolak-balik ke program kamus terpisah.

Instalasi

Pertama-tama, download dan install Firefox kalau kamu belum memilikinya. Setelahnya, kunjungi halaman utama Rikaichan lalu install ekstensi utamanya (main extension) dan salah satu kamus (word dictionary) yang ada. Saya menggunakan kamus Jepang-Inggris, namun ada beberapa pilihan lain misalnya Jepang-Jerman dan Jepang-Perancis. Sayangnya belum ada kamus Jepang-Indonesia.

Kalau kamu mengklik pranalanya dari Firefox, Firefox akan mencoba untuk langsung menginstallnya. Kalau kamu memilih untuk menyimpannya lebih dulu ke hard disk dan menginstallnya belakangan, klik kanan pranalanya dan pilih Save Link As.... Instalasi manual bisa dilakukan lewat menu FileOpen File... dan memilih berkas .xpi yang ingin diinstall.

Penggunaan

Untuk menyalakan Rikaichan di suatu halaman, tekan kombinasi tombol Alt + Ins. Nanti akan muncul pesan berikut:

Pesan bahwa Rikaichan telah dinyalakan

Kalau entah kenapa tidak bisa nyala dengan cara itu, kamu bisa mengaktifkannya lewat menu ToolsRikaichan. (Kalau lewat menu ini, pasti nyala walaupun mungkin tanpa ada pesan apapun)

Setelahnya, kamu tinggal mengarahkan kursor mouse kamu ke awal kata yang tidak kamu ketahui. Otomatis Rikaichan akan memunculkan dirinya:

Rikaichan, add-on kamus bahasa Jepang dan kamus kanji untuk Firefox

Untuk setiap kemungkinan, Rikaichan akan menunjukkan cara membacanya dalam kana dan juga artinya.

Rikaichan juga cukup canggih karena bisa bekerja pada kata yang terinfleksi. Misalnya, kata yang muncul di halaman web mungkin “tabemasu” tapi dia bisa mencari bentuk dasarnya “taberu” di kamus.

Kamus kanji

Secara default, Rikaichan akan memunculkan kamus kata seperti di atas. Kalau yang ingin kamu cari adalah informasi kanji, misalnya seluruh bacaan on dan kun yang ada, kamu tinggal menekan shift saat kamus katanya muncul:

Rikaichan sebagai kamus kanji

Informasinya sangat banyak, mulai dari jumlah guratan, kelas Jouyou kanji tersebut, sampai indeksnya untuk berbagai kamus.

Rikaichan Lookupbar

Kamu bisa juga menggunakan Rikaichan sebagai kamus elektronik tradisional, di mana kamu mengetikkan atau mempaste kata yang ingin dicari. Gunakan Rikaichan Lookupbar yang bisa dimunculkan dengan tombol Alt + Del atau melalui menu ToolsRikaichan Lookupbar:

Rikaichan lookupbar sebagai kamus bahasa Jepang tradisional

Kamu tinggal menuliskan masukannya di kotak teks yang tersedia. Perlu diketahui bahwa dia tidak menerima masukan romaji. Jadi pastikan bahwa sistem kamu bisa untuk menulis huruf Jepang.

Lain-lain

Saat kamusnya muncul, kamu bisa menekan C untuk mengkopi isinya. Lalu, kamu bisa melihat tombol pintas lain beserta mengubah berbagai macam opsi dan setting yang ada dari menu ToolsAdd-ons.

Secara umum, kamus dasarnya tidak memuat nama orang. Tapi di situs Rikaichan kamu bisa mengunduh kamus nama (names dictionary) tambahan sebesar 11 MB yang juga berisi nama tempat. Kamus namanya sangat lengkap sampai ke tingkat yang mengerikan. Dia mengenali mulai dari tokoh sejarah seperti 織田信長 (Oda Nobunaga), pengarang terkenal seperti 夏目漱石 (Natsume Souseki), pemain igo seperti 趙冶勲 (Chou Chikun), sampai aktris seperti 堀北真希 (Horikita Maki)! Kamus nama tersebut sangat berguna untuk membaca berita dan tulisan-tulisan tentang Jepang dari Internet!

Penutup

Tidak perlu diragukan lagi bahwa Rikaichan adalah alat yang esensial bagi pelajar bahasa Jepang. Hanya dengan berbekal hiragana dan katakana, kamu otomatis langsung bisa mengakses semua tulisan Jepang yang ada di dunia luar sana! Install plugin ini, coba, dan kamu akan segera heran bahwa kamu dulunya bisa hidup tanpa Rikaichan.


  • 0

Tutorial Watarasebashi #04 – Mengenal Hiragana dan Suara di Bahasa Jepang

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode ini, kita akan berkenalan dengan hiragana yaitu salah satu jenis huruf yang dipakai di bahasa Jepang. Untuk mengawali, coba kita mulai dari bahasa kita sendiri yaitu bahasa Indonesia.

Di bahasa Indonesia, kita punya huruf kecil dan huruf besar. Walaupun pada dasarnya sama, masing-masing punya fungsinya sendiri-sendiri. Misalnya, huruf besar dipakai untuk mengawali kalimat. Huruf besar juga dipakai untuk singkatan misalnya pada MMIF. BISA JUGA UNTUK MEMBUAT KALIMAT YANG KELIHATANNYA SEPERTI BERTERIAK-TERIAK!!! AtaU SeKeDAr UnTuK MemBuAT oRaNG yaNg MeMBacA PuSinG.

Nah, dilihat dari sudut pandang tersebut, maka tidaklah begitu aneh bahwa bahasa Jepang punya 3 jenis huruf. Ada hiragana, katakana, dan kanji yang punya kasus penggunaannya masing-masing. Kita akan mulai dari yang paling dasar yaitu hiragana.

Hiragana

Di foto yang mengawali tulisan ini, huruf-huruf hiragana yang ada ditandai dengan warna biru. Kamu bisa lihat bahwa sebagian besar lagunya ditulis dengan hiragana. Artinya, kalau kamu mempelajari hiragana, kamu akan bisa membaca cukup banyak!

Suatu huruf hiragana pada dasarnya melambangkan silabel (suku kata) sehingga bisa langsung berbunyi tanpa perlu digabung dengan huruf lain. Contohnya, hiragana yang pertama kali muncul di lagu itu adalah で yang dibaca “de”. Perhatikan bahwa dengan huruf latin kita butuh 2 huruf untuk menyatakan suaranya!

Inilah perbedaan utama sistem seperti hiragana dengan sistem alfabet seperti pada bahasa Indonesia. Sebagai contoh lain, bayangkan suara “ka”, “ki”, “ku”, “ke”, dan “ko”. Dengan bahasa Indonesia, penulisan masing-masing memerlukan 2 huruf: satu untuk konsonannya yaitu “k”, dan satu lagi untuk suara vokal yang bersangkutan. Di bahasa Jepang, tiap silabel tersebut punya hurufnya sendiri yaitu か, き, く, け, dan こ.

Kalau di bahasa Indonesia kita membuat satu huruf untuk setiap silabel seperti pada hiragana, maka kita perlu huruf untuk suara “bu”, huruf lain untuk “ruk”, huruf lain untuk “blang”, dan seterusnya. Bisa dibayangkan betapa banyak huruf yang kita perlukan! Tapi Bahasa Jepang bisa menggunakan sistem seperti itu dengan baik karena jumlah suaranya sangat sedikit dibandingkan bahasa Indonesia.

Suara-suara pada hiragana

Huruf-huruf hiragana dasar sebetulnya sangat gampang cara kerjanya. Suara vokal di bahasa Jepang ada 5 yaitu “a”, “i”, “u”, “e”, dan “o” yang hiragananya masing-masing adalah あ, い, う, え, dan お. Perlu kamu ingat bahwa suara “e” pada bahasa Jepang seperti pada “enak”, tidak pernah seperti pada “elus”. Berikutnya adalah hiragana yang melambangkan suara konsonan + vokal misalnya さ (sa), ゆ (yu), dan み (mi). Struktur konsonan + vokal inilah yang memberikan nuansa khusus pada kata dan nama Jepang, seperti pada “kawasaki”, “fujimoto”, dan “suzuki”. Lalu terakhir ada hiragana spesial ん yang melambangkan satu-satunya suara mati “n”. “n” ini biasanya ditempelkan di belakang hiragana lain, misanya さ (sa) dengan ん (n) yang membentuk さん (san).

Romaji akan disertakan di tutorial ini, dan untungnya untuk sebagian besar kasus cara membacanya seakan-akan seperti membaca bahasa Indonesia. “ba” dibaca seperti pada “bata”-nya bahasa Indonesia, “ta” dibaca seperti pada “tani”-nya bahasa Indonesia, “ni” dibaca seperti pada “nipu”-nya bahasa Indonesia, dan seterusnya.

Tapi tentu saja ada perbedaan di kasus-kasus tertentu. Sebagai contoh, pada “watarasebashi” terdapat suara “r”. Getaran pada “r”-nya bahasa Jepang tidak sekuat “r”-nya bahasa Indonesia. Jadi dia berada di antara “r” dan “l”-nya bahasa Indonesia. Isu-isu lain yang berhubungan dengan cara membaca akan dibahas seperlunya saat kasusnya muncul.

Yang terakhir perlu diketahui untuk saat ini adalah keberadaan beberapa huruf hiragana kecil. Sebagai contoh, bandingkan ukuran や (ya) dengan ゃ (ya kecil). Hiragana kecil digunakan untuk menuliskan suara di luar struktur konsonan + vokal. Contohnya adalah suara “kya” yang ditulis sebagai き (ki) ditambah hiragana kecil ゃ (ya). Bandingkan きや (kiya) dengan きゃ (kya).

Penutup

Tujuan episode ini adalah memberi kamu sedikit gambaran tentang bagaimana hiragana bekerja. Yang perlu kamu ingat adalah:

  • Tiap huruf hiragana melambangkan suatu silabel sehingga bisa langsung dibunyikan. Contohnya adalah も yang bunyinya “mo”.
  • Huruf hiragana melambangkan suara vokal seperti い (i), konsonan+vokal seperti か (ka), atau huruf mati ん (n).
  • Terdapat hiragana kecil untuk menuliskan suara-suara yang lebih kompleks. Contohnya adalah みょ (myo) yang menggunakan ょ (yo kecil). Bandingkan dengan みよ (miyo).

Penjelasan hiragana di sini tidaklah menyeluruh, jadi kalau kamu ingin menguasai hiragana mulai dari sekarang silahkan kunjungi referensi yang lebih lengkap. Kamu bisa melihat Tutorial Tae Kim dan bab di Wikibooks tentang pelafalan bahasa Jepang beserta penulisan hiragana.

Saran saya adalah mulai mempelajari hiragana dari sekarang sedikit demi sedikit. Jumlah simbolnya tidak terlalu banyak yaitu sekitar 50, dan kamu bisa mencicil sesuai dengan waktu yang kamu punya. Di sini memang disertakan romaji, namun tujuannya adalah supaya kamu bisa langsung belajar tata bahasanya sembari mempelajari hiragana. Adanya romaji jangan sampai membuat kamu malas belajar hiragana.

Di episode berikutnya, kita akan melihat jenis huruf yang membuat bahasa Jepang tertulis begitu indah: kanji!


  • 0

Tutorial Watarasebashi #03 – Arah Menulis Bahasa Jepang

[Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Lagu Watarasebashi merupakan hit dan membuat Jembatan Watarase terkenal. Atas permintaan banyak fans Moritaka, pemerintah setempat tahun 2007 lalu membangun monumen yang memuat lirik lagunya. Walaupun kecil, tapi biaya pembangunannya 3.150.000 Yen atau sekitar 275 juta Rupiah!

Kalau kamu berdiri di depan monumen granit itu, kamu bisa melihat liriknya sekaligus pemandangan indah jembatan yang melintasi sungainya. Terlebih lagi, ada sensor infra merah yang akan memutar lagu originalnya jika dia mendeteksi keberadaan orang di situ. Sensor dan pemutar lagunya dipasang di tiang listrik dan hanya bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 8 malam. Jadi kalau kamu liburan ke Jepang dan berencana mencoba alatnya, jangan sampai ke sana di luar jam-jam tersebut!

Sistem menulis

Lirik Watarasebashi pada monumennya
Lirik lagunya, klik untuk memperbesar
Sekarang, kita akan menggunakan tulisan pada monumen tersebut untuk mengenal huruf Jepang dan sistem menulisnya. Tutorial ini akan menyertakan romaji yaitu bahasa Jepang yang ditulis dengan huruf latin, namun paling tidak kamu harus tahu gambaran umum tentang sistem menulis bahasa Jepang.

Arah menulis

Tategaki pada monumen Watarasebashi

Pada awalnya, bahasa Jepang ditulis secara vertikal yaitu dari atas ke bawah, dan kanan ke kiri. Sistem seperti ini disebut tategaki (縦書き) dan merupakan cara yang dipakai di monumen Watarasebashi tersebut (lihat gambar di atas).

Namun karena pengaruh dunia barat, pada era Meiji sistem menulis horizontal yang sama seperti pada bahasa Indonesia mulai digunakan. Sistem tulis mendatar ini disebut yokogaki (横書き). Contohnya adalah cover single Watarasebashi versi Moritaka Chisato di bawah ini:

Yokogaki pada cover single Watarasebashi

Cara mengingat mana yang mana cukup gampang. Tategaki dimulai dengan huruf t, jadi dia yang tegak atau vertikal.

Karena pemerintah memberi kebebasan, saat ini keduanya masih sama-sama bisa ditemui. Pada teks di internet, kita akan menemui yokogaki karena sistem komputer pada umumnya tidak mendukung tampilan tulisan vertikal. Kaligrafi sebagai seni tradisional menggunakan cara yang tradisional juga yaitu tategaki. Pada manga, yang digunakan umumnya adalah tategaki. Media lainnya seperti buku, majalah, dan koran akan menggunakan pilihannya masing-masing.

Episode ini akan diakhiri dengan kuis. Klik gambarnya untuk membuka versi besarnya, tulis jawabannya yaitu tategaki, yokogaki, atau mungkin jawaban lain (atau bisa cukup dipikirkan saja), lalu klik daerah abu-abu untuk memunculkan jawaban benarnya. Hati-hati, tidak semuanya semudah yang kamu kira :) .

Gambar Jawaban
Artikel Abe Natsumi di Wikipedia bahasa Jepang
Halaman Wikipedia bahasa Jepang tentang Abe Natsumi
Yokogaki, sebagaimana halaman Internet pada umumnya.
Suatu BBS bahasa Jepang
Suatu situs bulletin board
Tategaki! Situs tersebut menggunakan trik-trik HTML tertentu agar bisa tampil seperti itu. Kalau tertarik, coba saja kunjungi dan lihat kode HTML-nya.
Manga di majalah Yahoo! Japan Februari 2005
Manga dari majalah Yahoo! Japan Februari 2005
Ini manga tapi hampir semua tulisannya menggunakan yokogaki! Saya bisa menemukan 5 tategaki di situ, apa masih ada yang terlewat?
Suatu halaman majalah Bungei Shunjuu Mei 2005
Suatu halaman majalah Bungei Shunjuu Mei 2005
Campuran, ada tategakinya, ada juga yokogakinya.
Penjual makanan di festival
Penjual makanan di festival
Ini yang paling susah. Walaupun terlihat seperti yokogaki, sebetulnya itu adalah tategaki yang tiap kolomnya hanya terdiri dari satu huruf! Urutan membaca yang benar adalah カステラ (kasutera, nama makanan), bukan ラテスカ. Sebetulnya bisa juga dianggap sebagai yokogaki yang ditulis dari kanan ke kiri.

Berapa soal yang bisa kamu jawab dengan benar?

Di episode berikutnya kita akan melihat hiragana dan suara-suara yang ada di bahasa Jepang.